Kamis, 26 Maret 2020

ANGGOTA PS YANG TAK MAU BERDOA, TANDANYA SOMBONG.

,


Fachruddin
PUNCAK JURUS PS adalah sholat,  jadi jurus Kasaran, Halusan, Tikahan. Mahdi, Syahbandar dan Payung Rasul semua mengarah kepada kesempuranaan sholat, kesempurnaan dimaksud adalah sempurnanya sholat yang mampu kita laksanakan. Karena bila kita cermatio pelksanaan sholat bila kita buku klasik yang membahas masalah itu.berbagai macam kekurangan kita lakukan dalam melaksanakan sholat. Maka dengan mempelajari ilmu PS ini diharapkan kita mampu memahami masalah sholat ini sehingga kita mampu melaksanakan sholat secara terbaik. 

Selain itu harus kita ketahui bahwa inti sholat itu adalah doa, dengan demikian maka juurus PS yang memang merujuk kepada sholatpun sejatinya adalah juga doa. Peruntukan peruntukan jurus itu adalah doa kepada Allah. Ikrar Laailaaha Illallah yang diajarkan oleh Prana Sakti merupakan puncak puncak kepasrahan dan yang lebih penting lagi adalah merupakan kesaksian anggota Prana Sakti akan Kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu.

Maka bagi anggota PS yang menggunakan jurus jurus PS dalam menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi oleh para anggota,  maka anggota PS kehilangan peluang dalam melakukan berbagai kebaikan dari Jurus PS dan yang lebih merugikan lagi manakala Allah akan menganggap kita sombong dan Allah kecewa karena kita tak berdoa Padahal pada saat itu kita memiliki peluang untuk melakukannya.
Walloha a'lam bishowab. .

Jumat, 14 Februari 2020

AKAL SEHAT BUKAN SEKEDAR TAGAR

PERNYATAAN dengan mengkhatamkan Al-quran diharapkan dapat membuat akal sehat hingga rari tua Lansia bahkan mencapai Husnul Chotimah bagio saya bukan sekedar tagar kosong belaka, sebagai pemanis kata, tetapi bagi saya itu pernyataan serius, dan saya yakin para anggoat grup WA yang menyatakan demikian memiliki persamaan dengan saya bahwa itu buykan sekedar tagar, melainkan sangat serius, dan para anggotanya yang terdiri dari alumni UIN itu pasti merasa berkewajiban untuk membuatnya sebagai kenyataan, dan untuk itu akan saling membantu untuk bisa menjelaskannya kepada siapapun, dan juga membuktikannya bahwa kami serius dalam hal ini. Saya buat jalur untuk menjelaskan itu semua melalui dua media sosial, yaitu Youtube dan WA dan juga facebook, diharapkan bagi para anggota yang juga merupakan grup medsos, agar memanfaatkan media yang ditekuninya untuk bisa berkomunikasi dengan maksimal. Sebenarnya saya mengharapkan Priv. Idzamn fautanu dan Prov. Faisal untuk lebih aktif membuat produk komunikasi, tetapi tentu saja terlalu berharap kepada keduanya adalah hal yang mustahil, karena mereka berdua masih memiliki agenda tersendiri sebagai statusnya sebagai seorang dosen. Namun demikian kita berharap sesekali keduanya sekalipun tridak dalam waktu yang bersamaan meluangkan watu sesekali menyapa kami para anggota WA ini dalam rangka agar memiliki kemampuan untuk merumuskjan akal sehat yang harus kami capai dalam menapak kehidupan agar bisa diterima Allah sebagai hamba yang layak ditempaykan ditempat yang terhormat, baik dunia mauyopun akherat kelak.

Senin, 13 Januari 2020

TRADISI MENGHARGAI GURU BESAR

DI LINGKUNGAN PRANA SAKTI, di mana saya berada di dalamnya, Pranasakti itu adalah sebuah Perguruan dan nama yang disepakati Perguruan dan Dakwah Beladiri Tanaga Dalam Islam Pranasakti, tetapi para muridnya merasa cukup menyebutnya Pranasakti dan bahkan mereka cukup dengan singkatan "PS" Prana Sakti disetting sebagai Perguruan, yang maksudnya ada ilmu yang diajarkan dan ada Pengajarnya yang disebut sebagai Guru Besar, tetapi Sang Guru Besar sering mengatakan bahwa Guru Besar yang sebenarnya adalah Al-Quran. Artinya apa yang digariskan oleh Guru Besar harus sejalan dengan Al-Quran, dan segala sesuatunya harus sepenuhnya mengacu kepada Al-Quran. Inti dari yang diajarkan oleh Perguruan ini adalah "Apapun Yang Terjadi Sampai Saya Mati, Saya Berpegang kepada Laailaaha Illallah"



Walaupun PS adalah sebuah Perguruan tetapi tidaklah berarti secara otomatis ada banyak kegiatan tulis menulis di Perguruan ini, jika tidak ingin dikatakan tak memiliki tradisi tulis menulis, apa yang diajarkan itu terucap dari apa yang dituturkan oleh Guru Besar, dan penuturan Guru Besar itulah yang akan menjadi pegangan bagi muridnya, bahkan para Gurui Besar pengganti, apalagi ketika para muridnya melaksanakan ajaran Guru Besar ternyata ilmu itu berkembang, dan perkembangannya antara murid yang satu beda dengan apa yang dialami murid yang lain, walaupun ditinjau dari segi status dan kelas adalah sama. Semakin banyak murid berprestasi, akan semakin banyak variasi dalam prestasi. Maka yang harus dijaga dan dipelihara adalah start awal, start awal itu adalah Ikrar Apapun Yang Terjadi Sam,pai Saya Mati, Saya Berpegang Kepada Laailaaha Illallah.

Dalam youtube di atas saya menampilkan  dua orang contoh, yaitu Prof.Dr. Qomaruddin Hidayat, dan yang kedua adalah Adi Masardi, yaitu Pengamat Politik. Seorang Prof.Dr. Qomaruddin Hidayat menahan diri tak mengatakan mengucapkan dan menggagas sesuatu yang bertentangan dengan orang yang pernah membesarkan namanya, yaitu Prov, Buya Hamka. Dan seorang lagi adalah Pengamat Politik Adi Masardi yang juga tak ingin bertentangan dengan sikap sikap orang yang pernah membesarkannya, yaitu Dr.Abdur Rachman Wahid.

Seorang Pro.Dr. Qomaruddin Hidayat adalah Staf Redaksi Majalah Panji Masyarakat Milik atau Warisan dari Dr. Buya Hamka, dalam hal ini Qomaruddin berpantang menuliskan sesuatu yang berbeda dengan pendapatr dan sikap yang diambil oleh Buya Hamka, demikian cara Qramuddin menghargainya. Sama Halnya dengan Adi Masyardi yang berpantang memiliki pemikiran, pernyataan dan beraktivitas yang bertentangan Gus Dur, karena beliau adalah Juru Bicara Gus Dur pada saat Gus Dur menjadi Presiden, tetapi sikap ini masih di bawa bawa Adi Masyardi hatta Gus Dur tak lagi Menjadi Presiden, bahkan kini Gus Dur telah tiada.

Sangat berat rasanya bagi seseorang yang berilmu untuk membatasi diri dalam bersikap dan berpendapat seperti yang dilakukan oleh Qoramuddin dan Adi Masyardi Qmaruddin adalah Profesor yang memang selalu dituntut untuk melakukan pembaharuan. Atau Adi Masyardi sebagai Pengamat yang akan dihargai akan kemampuannya untuk berbeda. Tetapi justeru mereka bisa, mereka bisa karena mereka mengerti dan memahami. Mereka pantas kita teladani.