X
Rabu, 04 Agustus 2021
Selasa, 03 Agustus 2021
PERTEMUAN VIRTUAL INI HAMPIR SAJA SAYA BATALKAN
Senin, 26 April 2021
MINTA MAAF ITU SEJATINYA MULIA
Selasa, 17 November 2020
MAHFUD MD WARAS, RUSAKNYA BANGSA KARENA RUSAKNYA PENGUASA, RUSAKNYA ILMUAN DAN DIAMNYA ULAMA.
TUGAS KITA ADALAH MEMBANTU ULAMA AGAR TETAP BERANI MENYUARAKAN KEBENARAN.
KITA BANTU ULAMA UNTUK memperjuangkan tegaknya kebenaran, posisi yang paling sulit dihadapi para ulama adalah ketika kebenaran itu bertentangan keinginan dan hawa nafsu Penguasa. Karena dengan kekeuasaannya seorang Penguasa mengidentikkan dirinya dengan kebenaran itu sendiri. Dan mereka yang memiliki siukap berbeda dengan sikap Penguasa yang zalim, maka itu dianggap sebegai suatu yang makar. Mahfud MD Mengatakan : Rakyat akan berutal dan merusak jika Pemerintahn ya rusak, ilmuan rusah dan ulama tak berani bicara, ini yang sedang terjadi kata Mahfud, MD dulu.
Itulah sebabnya maka ijtihad yang palibng berat bagi serang ulama adalah ketika dia harus menegur Penguasa yang rusak, seorang penguasa yang rusak adalah Penguasa yang ingin meraih kekuasaan yang seluas luasnya, apalagi bila untuki mencapai kekuasaan itu dibutuhkan dana yang banyak, maka Iya akan mencari uang yang sebanyak banyaknya demi mempertahankan kekuasaan yang sebesar besarnya, kata Machfud MD yang viral di beredar. Terima kasih Pak Mahfud.
Ketika para ilmuan diam dan hanya mengekor kepada selera Penguasa, maka para Penuasa itu akan mengalami kematian hatinurani, Hidupnya hati itu adalah bertambahnya ilmu. Manakala ulama tidak sanggup bicara di hadapan Penguasa yang sedang mengalami kesesatan, Maka masyarakat luaspun akan ikut rusak dan berutal, itu terjadi di Indonesia kata Mahfud MD. Lihat saja youtubnya. Kita berharap agar masing masing mampu menahan diri, menahan hawa nafsu, agar Allah berkenan menunjuki kita semua jalan yang lurus dan di ridhoi Allah SWT. Aamiin.
Senin, 16 November 2020
MAHFUD MD DIBENTAK BENTAK ... ?
SEMOGA MAHFUD MASIH BISA DISELAMATKAN.
Diawal youtube itu Prof. Dr. Mahfud MD, SH. MH dan sangat pantas ditambah gelar lagi sebagai upaya menggambarkan bahwa beliau bukan orang sembaranganm dalam bidang hukum, yang setidaknya pembimbing beliau waktu menyusun Disertasi S3 nya tak malu malu mengutip ngutip tulisan belai dalam Disertasi itu, itu sekedar kita menggambarka kehebatan Pak Profesor asli Madura itu. Tetapi dalam tampilan itu beliau mengambarkan kebencian dan menggap Cucu Rasul Dr. Habib Riziq Shihab sebagai orang biasa biasa saja dan tak ada alasan memulyakannya.
Durasi berikutnya tampil pemilik Chanel Youtube itu justeru memaki maki Prof. Dr Mahfud dengan panggilan seperti memanggil anak kecil, dengan sebutan Fud ... Fud ... Fud. dan beberapa kali memberikan kode penyembelihan dengan kode penyilangan di leher, yang artinya sembelih atau bunuh. Sepertinya tak terlalu sulit kita menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang tak sehat sedang terjadi.
Bagi kita sebagai orang awam ini mudah saja mencari siapa orang yang paling pantas dimulyakan dalam Islam, yaitu ulama yang paling dibenci oleh orang orang kafir. untuk lingkup Indonesia maka ulama yang paling dibenci oleh banyak orang terutama orang yang terlibat atau berada dalam posisi berkuasa adalah mereka mnereka paliung benci kepada Habib Riziq Shihab. Walaupun memang sekarang ada fenomena baru bahwa telah mulai ada orang orang Non Muslim yang terutama aktivis pembela kebenaran dan keadilan merapat ke Habib Riziq.
Tetapi tetap saja rumusan yang kita pakai sudah jelas bahwa ulama yang benar dan baik itu adalah ulama yang paling dibenci oleh orang orang kafir. Dan ulama yang paling banyak pencintanya dan paling banyak pembencinya adalah Habib Riziq Shihab, maka secara bodoh bodohan saja bahwa pada saat ini ulama yang paling baik dan pantas jadi ikutan itu adalah Habib Riziq.
Lalu bagaimana posisi Mahfud MD sehingga orang orang Madura merasa sangat kecewa tidak lain tidak bukan adalah karena Mahfud MD memposisikan diri sebagai orang yang membenci Habib. Atau setidaknya Mahfud MD ingin kita catat ramai ramai sebagai orang yang tak suka kepada Habib Riziq Shihab. Kita berjarap agar para pemuda Madura itu mampu menuntun Mahfud MD ke jalan yang benar. Semoga Allah menuntun kita semua, termasuk Mahfud MD. Aamiin.
Senin, 15 Juni 2020
. BERHATI HATI JANGAN TERGELINCIR DI MUSYRIK
![]() |
| FACHRUDDIN, FGD |
Sabtu, 06 Juni 2020
MUHAMMAD SAW ITU KAYARAYA.
![]() |
| FACHRUDDIN FGD |
Demikian yang sempat melintas di benak saya, bahwa mereka ini memiliki semangat untuk berbagi tetapi dengan keterbatasa merekja mampu mengumpulkan beras dan minyak goreng, Memang belum sebanding antara mereka yang bisa menerima dengan mereka yang bisa dibagi, apalagi dampak dari lockdown arau apapun namanya itu ternyata tak begitu saja bisa dihentikan dengan dikatakan lockdown berakhir. Walaupun untuk mentara waktu terbilang sedang berjalan landai.
Grup yang sedang menyelenggarakan bakti sosial ini adalah Grup WA yang memiliki program Khatam Quran untuk mencapai akal sehat. Disebutkan bahwa akal sehat itu terdapat pada jiwa atau qolbu yang sehat. Kalbu yang sehat itu ketika memiliki kemampuan memutuskan sesuatu dengan penuh keyakinan berdasarkan pengetahuan yang juga diyakini kesahihannya, serta sejalan dengan al Quran dan al Hadits. Sementara terkait Corona ini kita dijejali dengan informasi yang cenderung brutal. Dan membuat masyarakat menjadi ragu ragu. Hati yang ragu ragu itu menunjukkan bahwa hatinya sedang sakit. Ciri ciri hati yang sakit adalah ragu ragu ketika menetapkan kepuitusan. Banyak orang yang tak lagi mengunjungi masjid, tetapi Ia malu bercerita, banyak juga yang masih rajin ke masjid, tetapi Ia sendiri ragu, apakah kuputusannya benar. Ia pun sulit menyampaikan alasannya, karena memang tak dipahaminya.
Dengan cara berbagi dengan mereka yang membutuhgkannya, maka kita semua berharap agar memiliki kemampuan dan data data valid sehingga tak mengalami ragu ragu ketika menetapkan keputusan penting bagik bagi dirinya maupun keluarganya. Maka dengan mengkhatamkan alQuran, kita layak untuk berdoa atau meminta kepada Allah agar diberitahukan dengan al-Quiran apa apa yang kita belum, agar diingatkan melalui alQutan apa apa yang kita terlupa dengan itu semua, karena hanya dengan al-Quran kita mampu mencapai derajat takwa, yang sebenarnya takwa. Dan pada hakekatnya kita bukan sekedar berbagi, tetapi sesungguhnya kita meminta yang lebih lagi, karena kita sadar bahwa kita penuh kekurangan dan kealpaan, sementara Allah maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Itulah kira kira salah satu makna kawan kawan memaksakan diri untuk bisa berbagi. Hanya kepada Allah kita berharap.
Walloa'lam bishowab.
Kamis, 07 Mei 2020
KENALILAH BERBAGAI PENYAKIT HATI SECARA DINI
Jika ciri munafik itu ada beberapa umpamanya, maka yang banyak diidap ini belumlah mencapai satu dari satu dari beberapa itu, tetapi Ia sedang menuju kepada jumlah seutuhnya, yang disebut penyakit jiwa adalah sedang terbangun menuju point point kemunafikan itu tahap demi tahap, katakanlah misalnya adalah m,enyembunyikan kebenaran demi mempertahankan keinginan dan hawa nafsunya, atau orientasi politiknya, atau sekedar tiad mengakui kekurangannya. Tetapi manakala hal tesebut tidak segera diperbaiiki, maka bangunan kemunafikan itu akan semakin kukuh.
"Dan kami turunkan Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmad bagi orang orang yang beriman, dan alQuran itu tidaklah menambah bagi orang yang zalim selain kerugian. (Al-Isra' 82)
" ... serta melegakan hati orang orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang yang beriman. (At Taubah 14-15).
Selasa, 05 Mei 2020
PASTIKAN HATI YANG SEHAT KETIKA MENATAPKAN KEPUTUSAN
KITA MEMILIKI PELUANG UNTUK MENILAI DIRI
Kita batasi masalah ini dengan hanya Kota Bandar Lampung saja. Tim menyimpulkan bahwa Kotamadya Bandar Lampung termasuk zona merah, Pemerintah melarang ummat Islam sholat taraweh, sholat jum'at di Masjid. Tetapi sholat lima waktu silakan jika ingin sholat di masjid atau musholla. Dan sikap para jamaah ternyata bernekaragam.Dan salah satu kelompok dari ummat tetap beraktivitas peribadatan di Masjid dan Musholla karena Pemerintah juga simpang siur, sehingga ummat memilih cara sendiri. Salah satu pemicunya adalah Pemerintrah sendiri tidak dalam satu suara.
Tetapi ada yang menarik. Ada yang belum lagi larangan Pemerimntah untuk tidak sholat taraweh dan Jumatan, mereka telah memutuskan tidak lagi mengunjungi musholla dan Masjid, mereka full sholat di rumah. Ada juga yang sekalipun sudah keluar larangan namun mereka tetap saja sholat lima waktu, taraweh dan jumatan di Masjid. Tetapi ada juga yang datang sesekali walaupun semua telah menyatakan tak akan sholat di Musholla dan Masjid sebelum Corona reda. Ada yang menyatakan akan siap selalu sholat di Masjid dan Musholla tetapi sesekali tak nampak juga. Katakasnlah hal itu menjadi pilihan masing masing, karena viral di masyarakat agak nertentangan antara satu dengan yang lain. Maka kini kita bisa menilai apakah dilakukan sesuai hati yang sehat, itu penting karena dengan hati yang sehat, maka akalpun akan menjadi sehat pula. .
Setidaknya hati itu bisa dikalssifikasikan menjadi Hati yang hidup vs Hati yang mati, Hati yang Bangun VS hati yang tidur, Hati Yang Sehat VS Hati yang Sakit. Hati yang mana yang kita pumya, hati yang mana yang kita gunakan ketika mengambil kesimpulan untuk dilaksaanakan. Berdasarkan Ketetapan Hati kita.
Keputusan berdasarkan Hati Yang Hidup, manakala kesimpulan dan keputusan hati berdasarkan Pengetahuan yang standar untuk bisa memutuskan sesuatu. Karena ini terkait Corona, maka ilmu dan pengetahuan yang dimaksud adalah terkait Coirona. Manakala Keputusan itu kita putuskan ketika kita sedang posisi kurang informasi tentang Corona, maka berarti kita memutuskan sesuastu dalam keadaan hati yang sejatinya sedang tidah hidup, atauy tepaynya kita memutuskan sesuatu dalam posisi hati yang mati.
Disebut Hati kita sedang Bangun, Ketika itu kita putuskan ketika belum atau bahkan tidak membaca baca ulang bagaimana petunjuk Allah dan Rasulnya terkaiy wabah penyakit menular, ketika itu kita putuskan dalam posisi tidak tahu tentang itu, maka sesungguhnya hati kita tidak dalam keadaan bangun. Dan disebut hati kita tidur manakala kita memutuskan sesuatu dalam posisi lalai. (lihat tulisan terdahulu).Dan kita akan tercatat sebagai orang yang lalai ketika kita sanggup memutuskan sesuatu hanya dengan pengetahuan dan bahan bacaan sekedarnya, dan dengan pertanggungjawaban alakadarnya.
Disebut Hati Yang Sehat, manakala semua tahapan meliputi, hidupnya hati dan bangunnya hati terampawi secara sempurna dan meyakinkan. Ketika dalil dalil yang meyakinkan itu dijadikan dasar pengampilan keputusan maka berarti kepusutasn itu diambilk dengan hati yang sehat. Dengan hati yang sehat maka besar kemungkinan kita mampu menggunakan akal yang sehat.
Tetapi manakala ada pengetahuan kita yang kurang tentang apa yang telah kita putuskan, maka sesungguhnya hati kita sedang mati, manakala terjadi kelalayan terkait masalah yang telah kita putuskan, maka sesungguhnya hati kita kita sedang tidur. Tetapi yang lebih parah lagi manakala ada sesuatu yang telah kita putuskan dan bahkan sudah dilaksanakan, tetapi sesungguhnya hati kita ragu, maka pada hakekatnya pada saat itu hati kita sedang sakit.Tak mungkin pada saat itu kita bisa menggunakan akal sehat.
Hati kita termasuk sehat manakala pada saat memutuskan :
1, Kita telah memiliki pengetahuan yang memadai untuk menyimpiulkan sikap terbaik terkait Coron.
2. Kita telah mengkonfirmasi semua pengetahuan itu dengan al-Quran dan hadits serta beberapa sejarah yang terkait dengan halk tersebut dan sejalan dengan Islam
3. Berdasarkan ilmu dan agama, sedikitpun takada alasan untuk diragukan.
Hati kita tidak sehat jika dalam memutuskan itu keadaan kita.
1. Penegtahuan kita terkait coronba terbilang minim.
2. Kita tak sempat mengklarifikasi dengan ajaran agama tak maksimal
3. Kita mencari pengetahuan dan ajaran agama sekedar untuk memperkuat alasan sikap kita.
4. Sikap yang kita ambil menyisakan rasa bimbang.
Jika kita menisakan rasa ragu, maka berarti hati kita sedang sakit,
Terserah anda menilai diri anda sendiri.
Wallohu a'lam bishowab.
PASTIKAN HATI KITA SELALU DALAM KEADAAN BANGUN
Karena Allah selalu merespon kita maka kita akan selalu menjaga hal hal yang tak disukai Allah, apalagi jelas jelas di larangnya, jamngankan yang dilarang yang makruh saja, yang tak disukainya harus kita hindari, manakala hal yang drmikian menjadi prinsip kita, maka berarti telah berusaha untuk tetap selalu terjaga, artinya hati kita bangun. Hati kita disebut bangun manakala kita selalu ingat atau dzikir kepoda Allah.
Dengan selalu ingat kepada Allah, maka seseorang tidak akan lalai, lalai dalam bahasa Indonesia artinya kurang hati hati, atau tidak m,engindahkan. Sedang dalam al Quran lalai disebut bahwa neraka Wail bagi orang yang lalai dalam sholat, kelalaian dalam sholat itu antara lain menunda nunda pelaksanaan sholat sehingga ketiadaan waktu, posisi waktu pada akhir, kedua tidak memenuhi rukun dan syaratnya, sehingga tentu saja sholat itu kurang sempurna bahkan tidak syah, yang ketiga sholat dilaksanakan tidak sepenuh hati.
Jadi seseorang di katakan hatinya hidup manakala Ia merasa bahwa Allah selalu memperhatikan dan merespon apa yang dipikirkan, apa yang di ucapkan dan apa yang dilakukan. Sehingga Iya akan selalu melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya, serta meninggalkan larangannya. Dan seseorang disebut manakala tidak melaksanakan tugasnya, atau walaupun dilaksanakan, tetapi jauh dari kesempurnaan.
Satu hal yang harus menjadi catatan bagi kita adalah bahwa pada hakikatnya dalam hati yang hidup bukan hanya kita yakin bahwa Allah akan merespon apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan. Tetapi yang juga harus kita garis bawahi bahwa Akal itu akan sehat justeru setelah kita merespon segala perintah dan ajaran Allah dengan hati, dengan ucapan dan juga dengan perbuatan.
Wallohua'lam bishowab.
Minggu, 03 Mei 2020
HIDUPKAN HATI TERUS, BILA INGIN PUNYA HATI YANG SEHAT.
![]() |
| Fachruddin FGD |
MUNGKIN BELUM BENAR BENAR MATI.
Di tingkat SD saya enjoy dalam belajar, di awal SLTP masih memiliki kemampuan mempertahankan semangat belajar, tetapi semangat belajar saya hilang di akhir LTP semulka saya diawali dengan mengalami sakit, sebenarnya sakit yang paling parah adalah di kls III SLTP saya mengalami sakit yang cukup parah, pada saat itu saya mengalami sakit hingga tiga (3) minggu lebih lamanya dan puykulan yang paling parah saya rasakan adalah jatuhnya prestasi saya di Ilmu Aljabar, saya disingkirkan oleh teman perempuan di kelas itu. jika tak salah namanya Maryati. Dia menjadi Bintang Aljabar di kelas saya. setelah saya diringkirkan dalam ketidak berdayaan setelah saya mengalami sakit mencapai sebulan tak masuk sekolah. Dan langkah berikutnya saya kekurangan jatah bulanan, sehingga kecap menjadi teman nasi yang paling setia
Setammat SLTP masuk ke SLA nampaknya saya saya masih belum mampu menghidupkan lematian atau mungkin baru pinsan, sampai pada saat kelas III SLTA atau tahun teralhir di SLTA. Pada saat kami masuk kelas akhir, kami di bagi dua dan memang saya dikelompokkan ke kelompok A, kami semua di bagi kelompok A dan B. A di anggangap lebih baik dari B.Tetapi saya merasa saya takdi kelompokkan kan A. Saya juga heran selama tiga tahun saya menggenjot untuk menutupi
ketertinggalan saya. Tetai hingga ujian akhir saya belum mampu mernunjukkan prestasi dan hasil belajar saya.
Hasil belajar saya baru nampak terasa setelah mulai duduk di bangku kuliah. Hasil hasil belajar saya baru mulai bermunculan dan terasa. Saya merasakan adanya grafik naik. Apa yang saya baca terasa lengket di ingatan saya, dan saya suka membaca baca buku apapun. Dan di Bangku kuliah saya menyenangai semua mata kuliah saya sukai, tidak seperti SLTA dahulu, aga mata pelajaran yang kurang saya sukai. Di Bangku kuliah tak mata kuliah yang tak saya sukai.
Hingga Sarjana Muda memang saya akui buku yang saya baca tak terarah, karena pada saat itu dosen tak mengarahkan, karena memang bukunya tak ada di Perpustakaan. Baru setelah doktoral kami mendapatkan intormasi buku apa yang diwajibkan dan buku apa yang diajurkan. Pada saat itu saya membaca buku buku itu selagi ada di toko buku dan di Perpustakaan.
Inti yang menjadi point saya adalah bahwa sakitnya hati bisa kita alami sekalipun kita dalam penuh kesadaran bahwa hati kita sedang sakit, dan kita berusaha belajar. Pada saat saya berusaha belajar itu saya belum sanggup menemukan hidupnya hati saya, tetapi yang sudah pasti saya dapatkan adalah semangat, semangat untuk belajar itu saya pikir menunjukkan bahwa hati saya belum mati. Dan kesimpilan saya untuk itu kita memang membutuhkan sebuah perjuangan.
Selasa, 21 April 2020
DETEKSI MANDIRI KONDISI HATI ITU PENTING.
KETAHUILAH BAHWA hati kita itu seperti juga halnya dengan fisik kita, ada beberapa situasi hati yang harus bisa kita identifikasi secara dini agar tidak keterusan, karena manakala terlanjur parah maka akan menyulitkan kita mencapai husnul khootimah. Namun demikian identifikasi mandiri itu adalah sesuatu yang sangat mungkin bisa kita lakukan sedini dan secepat mungkin, namun jangan samopai terlambat Ada hati yang hidup, ada hati yang mati, ada hati yang bangun dan ada hati yang tidur, ada pula hati yang sehat, tetapi ada hati yang sakit.
Hati kita Hidup manakala ilmu kita selalu bertambah, hati kita akan menjadi mati manakala kita berhenti menambah ilmu. Hati kita akan Bangun bila kita berzikir, dan hati kita akan Tidur manakal kita lalai. Hati kita akan Sehat manakala kita memiliki keyakinan dalam menghadapi berbagai masalah, sedangkan hati ini akan sakit manakala kita menjadi Bimbang dan Ragu ketika menghadapi masalah.
Hidup pada era sekarang ini, yang disebut era digital, era informasi dan era aplikasi, seyogyanya kita menapaki kehidupan ini akan lebih mudah dan nyaman, ternyata tidak. Bagaimana kondisi hati kitalah yang lebih menentukan, Bahkan barokah dan hidyah juga terkait hati kita pula. Berikut saya mencoba untuk menguraikannya, tetapi dalam uraiannya akan saya kaitkan dengan virus corona. bagaimana kita berfikir dan bersikap dan bahkan berbuat terkait vurus corona, semoga saja dari kasus itu kita bisa mengetahui di mana posisi hati kita ini. Hidipkah, atau matikah. Bangunkah atau tidurkah, Dan Sehatkah atau sakitkah.
Hati ini terbilang hidup manakala kita masih mempunya upaya menambah pengetahuan. Ketika kita tahu masuknya virus corona yang mengancam siapa saja, lalu apakah kita memiliki upaya untuk cari tahu lebih banyak. Jika Iya maka diyakini hati kita dakam keadaan hidup. Tetapi jika biar saja orang yang cari tahu, nanti kita ikut ikut saja, maka sesunggunya kita sedag enggan untuk hidup, tetapi yang paling banyak mungkin hidup enggan mati tak mau. Dia tak mau belajar. Dia mengalami matik yang sebenarnya manakala benar benar tak lagi memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang itu.
Tetapi hati kita mungkin belum mati, atau masih hidup. Tetapi apakah hati kita sedang Bangun ?, Batasan hati yang bangun, adalah apakah pengetahuan anda tentang virus tadi langsung dikaitkan dengan keberadaan Allah. Jika kita berhasil mencari tahu bagaimana ajaran agama terkait dengan virus coronas, dan kita menentuikan sikap kita berdasarkan ajaran Allah dan kita melakukannya, maka berarti hati kita itu sedang bangun. Tetapi manakala kita tak tahu bagaim=na dengan ajaran yang sebenarnya, dan kita ikut ikutran saja, ke mana angin deras, sehingga melakukan kelalaian kelalaian, maka kelalaian itulah yang disebut dengan hati yang sedang tidur.
Oke .... Hati kita Hidup, dan Hati kita bangun atau terja, tetapi sehatkah hati kita, ukurannya adalah apakah kita melakukan sesuatu dengan keyakinan yang beralasan informasi dan pengetahuan yang akurat, dan kita telah berhasil mengaitkannya dengan petunjuk Allah. Banyak orang yakin, tetapi keyakinannya itu berdasarkan ketidak tahuan dan pemahakan yang memadai. Banyak orang yakin hanya berdasarkan ketakutannya saja dalam rangka mencari aman belaka. Biula itu yang ditempuh maka sesungguhnya dia belum sehat. Karena szesungguhnya seseorang dikatakn sakit hatinya manakala kita hidup dalam keragu raguan. Hidupnya terombang ambing, artinya hatinya sakit.
Di manakah posisi hati kita maka simaklah uraiah kilat, tetapi sedikit agak ribet ini, bacalah dengan sabar dan akhlas, maka maka kita akan memahami dan menadapatkan benang merahnya. Semoga hati kita sehat semua, karena dengan hati yang sehat itulah maka mati kita nanti dalam keadaan husnul khootimah.
Senin, 13 April 2020
HATI YANG SEHAT UNTUK MENCAPAI HUSNUL KHOTIMAH
KITA HARIS TAHU bahwa hati atau qalbu kita itu seperti juga halnya dengan tubuh kita. Kata Ibnu Thaimiyah ada enam macam yang dialami tubuh, demikian juga hati atau qalbu meliputi Sehat, sakit, hidup, bangun, tidur ada juga hati yang mati, (1) Hati itu akan mengalami hidup manakala ilmu bertambah, (2) Hati akan sehat manakala Ia memiliki jeyajinan atau sesuatu yang pantas diyakininya, (3) Tetapi hati itu akan sakit manakala hidupnya penuh keragu raguan, atau kehilangan kepercayaannya. (4). Hati itu akan tidur pulas manakala telah melakukan kelalaian kelalayan dalam hidupnya, (5) Hati itu akan bangun dengan dzikir dan mengingat Allag, (6) Hati akan Mati bila tak memiliki ilmu.
Tugas kita sekarang adalah memelihara hati agar sehat selalu, dalam sistematika penguraiannya adalah seperti ini : a) Hidup vs Mati, b). Bangun vs Tidur, c). Sehat vs Mati. Dan kita mulai dari hidup yang lawannya adalah mati. Yakinlah bawa hati kita itu masih hidup manakala kita masih memiliki semangat untuk untuk menambah ilmu dan pengetahuan, biasanya para ilmuan itu setelah mengetahui sesuatu maka carilah yang lain setelah yang satu itu didapat. Sumber ilmu pengetahun banyak, medianya juga banyak, berapa banyak sumber yang kita dapat dan seberapa banyak media yang kita gunakan. Kita bisa mengukur sendiri, dan artinya kita tahu sesungguhnya hati kita itu sedanh hidup atau sudah mati. Untuk membantunya, kita rumuskan pertanyaan dan kita cari jawabannya. Hidup dia.
Yang kedua kita juga harus memeriksa apakah hati kita sedang bangun atau sedang tidur. Hati kita akan bangun manakala kita sadar se sadar sadarnya bahwa Allah tak pernah melepaskan perhatiannya kepada kita, sehingga kita juga selalu mengingat Allah atau dzikir. Hati kita akan tetap bangun manakala kita selalu sedang merasa diperhatikan oleh Allah. Dan hati kita akan tertidur manakala kita mengira kita sedang luput dari perhatian Allah, dan kita mulai dengan berbagai kelalaian. Kelalaian demi kelalaian akan membuat hati kita tidur. Sekali kita tidak melaksanakan sholat berjama'ah dan kita menganggap sesuatu yang biasa saja, lalu dua kali, tiga kali kita lali, dan hati kita tertidur pulas.
Hati kita akan sehat manakala kita menmukan sutau yang bisa meyakinkan kita, bisa kita percaya dan sekaligus juga yang kita yakini adalah sesuatu yang benar. Manakala kita terjebak meyakini sesuatu yang salah kesehatan kita itu adalah kesehatan yang palsu. Dalam sholatpun kita bisa keliru atau ragu, dalam jumlah rokaat. Maka yang paling penting kita harus buang peluang untuk korup, bila kirta ragu ragu tiga rakaat atau emap rokaat, maka segera putuskan tiga rokaat dan kita melaksanakan rokaat yang keempat. Segera hilangkan peluang untuk korup. Laksanakan rokaat yang keemapt dengan segala keyakinan kita.
Hati kita akan betul betul mati manakala kita memang sama sekali tak memiliki ilmu. Bagi seseorang yang memiliki ilmu dunia ini akan terasa gelap, dan kita akan mengikut saja kemana orah angin yang deras. Naka akan kita buat seperti apakah hati kita ini, itu sangat tergantung atas kemauan kita, Maka yang benar adalah Hidupkan hati kita, Bangunkan hati kita, sehatkan hati kita. Dan jagalah hati ini jangan sampai sakit, jangan sampai tidur dan apalagi mati.. Ketika sedang mengejhmbuskan nafas yang terakhir yakinkanlah bahwa hati kita sedang hidup, sedang bangun dan sedang sehat.









