Label

Tampilkan postingan dengan label PIIL PESENGGIRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PIIL PESENGGIRI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Januari 2022

MAESTRO PIIL PSENGGIRI DAN VOCAL POINT PIIL PIIL PESENGGIRI


TERKEJUT JUGA ketika sejumlah mahasiswa mendatangi saya di rumah lalu mreka konformasi tentang nama dan alamat yang sudah mereka kantongi sebagai pegangan dalam melaknakan tugas mereka untuk mengikuti sebuah acara yang dikenal dengan nama  Kemah Budaya, mereka mendapat arahan bahwa untuk mengikuti acara iru syaratnya mereka harus mempersiapkan sebuah naskah atau tulisan dan praktik atau prakarya yang dapat mendorong perkembangan ekonomi. Sejumlah pemuda ini mengajukan diri sebagai peserta dan ingin memperkenalkan Falsafah Piil Pesenggiri sebagai pendorong keterampilan masyarakat dalam mengembangkan ekonomi. 

Setelah mereka saya diterima dirumah saya dimana sebelumnya mereka menghubungi saya untuk memperkenalkan diri dan akan meminta sejumlah penjelasan  maka terjadilah kontak dan perjanjian untuk  melakukan pertemuan dan berikutnya.  Lalu mereka meminta untuk bisa dipertemuikan dengan seorang tokoh yang memahami Falsafah Piil Pesenggiri dan bisa berkomunikasi secara akademis dan syukur syukur jika ada karya tulis yang dapat mereka dapatkan di toko secara bebas dan youtube yang dapat mereka akses secara bebas pula. Sesuai dengan yang saya rekomendasikan para mahasiswa ini setuju untuk menemui Bapak Anshori Jausal, seorang Sarjana ITB jurusan Seni beliau akademisi banyak menulis dan banyak terlibat dalam dalam kegiatan adat dan sudah sering menjadi narasumber tentang Piil Pesenggiri, sayapun banuyak belajar tentang Piil Pesenggiri termasuk saya sendiri. Dan pertemuan itupun terselenggara sesuai dengan kesepakatan. 

Sayang sekali para mahasiwa ini sama sekali tidak menjelaskan bahwa mereka akan menghadapiu sebuah lomba penyusunan sebuah rancangan , di mana lomba itu adalah lomba yang akan melahirkan sebuah keterampilan yang bisa mendorong  terbukanya sebuah produk yang mampu membuat lapangan kerja. Dan memang dalam penjelasan ketika memperkenalkan Piil Pesenggiri oleh Bapak Anshori Jausal, sama sekali Alumni ITB jurusan Seni dn memang sudah beberapa kali memperlihatkan karyanya  dalam bentuk rancangan pintu gerbang dan stelah karya itu selesai dikerjakan justeru sama sekali tak menyinggung falsafah seni dalam falsafah Piil Pesenggiri, demikianpun saya yang berbicara masalah Piil Pesenggiri itu hanya  sedikit saja dalam masalah falsafah atai filsafat. 

Akhirnya gerup anak muda ini laporan bahwa gerup mereka kalah dalam seleksi akhir dan seleksi itu dikalahkan grup yang memilih  ragam hias dan seni Tapis Lampung.  Mereka mengatakan bahwa kami tidak kecewa dengan kekalahan ini karena kami bergembira telah mendapatkan banyak pengalaman.  Saya tidak tahu Apakah Bapak Anshori Jausal telah mendapat laporan dari kegagalan merka dalam bersaing di upaya mengembangkan peninggalan budaya tak benda dari Lampung.  Seperti halnya saya maka saya juga memang membutuhkan waktu untuk memahami dimana keunggulan mereka dalam memenangkan lomba  tentang buadayatakbnda asal daerrah Lampung. Tah itu kekayaan Lampung juga, namun hal ini tentu saja saya tertarik untuk mengetahui lebih banyak, walaupun bukan pada saat ini.  Semoga bermanfaat.

Kamis, 01 Juli 2021

BUKU PANDEMI COVID 19 PASTI BERLALU (PCPB)


 

 MENCATAT COVID 19   TRAGEDI   DAN HARAPAN SETELAH ITU

Judul Buku    : Pandemi Pasti Berlalu. ISBN  : 978-623-95386-3-7.  Rditor Yuli Nugraheni, Penyelia Udo Z Karzi, 60 Orang Penulis, menghasilkan buku ukuran 14 x 21 Cm setebal 225 halaman dan xii halaman Rom. Ada Sepatah Kata Penerbit dan Catatan dari Editor.

 

 SEMULA TAK sengaja sya  melihat ada tawaran dari Pimpinan Pnerbit Labrak  Lampung di Facebook  untuk menulis Buku berjudul Covid 19 Pasti Berlalu, oleh penerbit diktakan perlu ada penulisan tentang covid 19  yang lebih bisa dipertanggungjawabkan dan memberikan pemcerhan bagi masyarakat yang diombang ambingkan pleh banyak informasi hoax yang memang sengaja diproduk pihak pihak tertentu   Semula terkait Covid 19, bahwa kata analisa dunia sangat meyakini bshws  silang sengkarut masalah pamdeni ini akan selesai dengan sendirinya bila Pilpres di  Amerika selesai, karena controversi  covid 19 ini sepertinya sengaja diciptakan untuk kepentingan pemenangan  dalam Pilpras Amerika Serikat.  Tetapi rupanya Negeri lain yang justeru memanfaatkan kontroversi AS itu di bawa ke wilyah internalnya tentu dengan sedikit perubahan  Barangkali itu pulalah sebabnya Tetapi untuk konteks  Indonesia ternyata walaupun Pilpres Amerika tuntas, ternyata masih sangat sulit untuk menyatukan informasi.  Bagaimana para politisi Amerika pada saat itu berusaha mengambil keuntungan, di sanalah  barankali letak kekeliruan kita ketika ada para pihak yang merasa penting untuk ambil keutungan atas kehadiran Covid corona di negeri sendiri. Kita terlambat menyadari semakin banyak pihak yang mendapatkan keuntungan dari kasus covid 19 ini maka berarti dalam waktu bertsamaan ancaman kemusnahan Bangsapun  akan semakin nyata.

Saya mencoba ikutan menulia, dan tulisan say saya kaitkan dengan peristiwa yang diabadikan  dalam Kitab suci Al-Quran, yaitu bagaimana sebuah Kota modern bernama  Irom di kubur bersama penduduknya secara utuh sehingga banyak bagian dari kota itu yang akan menjadi bukti sejarah. Apalagi setelah masyarakat banyak yang melupakan pristiwa tragis itu tahu tahu berdiri lagi perkotaan Modern seperti sebelumnya.dan Kota Modern yang baru itu mereka namai Irom juga. Kota Irom yang pertama bermula dari sebuah gunung batu yang mampu mereka pahat dan menjadi sebuah bangunan besar dalam bentuk sebah perkotaan lalu amblas ke dalam tanah, Kota Irom yang Keduaadalah sebuah komplek perkotaan di bangun di Kota itu bangunan dan rumah rumah bertingkat,tak ada bangunan setinggi iu pada saat itu, lalu perkotaan itu hancur dan amblas ke dalam tanah. Dinformasikan penyebab kedua kota itu hancur adalah akibat kebiasaan mengkorup segala ukuran. Sehingga tak ada lagi kepercayaan kepada sesama di kota itu, masyarakatpun apatis. kotapun hancur berantakan.kembali amlblas, dan akan menjadi objek peneltian, karena memang menyimpan rahasia dan pelajaran berharga. 

Proses meratanya pemalsuan ukuran tentu saja melalui proses panjang dan kehadiran kesewenang wenangan, penguasa dunia bisnis yang dibiarkan oleh Penguasa atau Pemerintahan rasmi, sementara ulama dan Ilmuan diam. Ketga kelompok ini bersepakat mengambil keuntungan dari potensi yang ada. Bila ilmuan  dan Ulama diam, Penguasa membiarkan lalu pebisnis  berbuat seenaknya, lalu fakir miskin  merasakan langsung kesengsaraan akibatnya, maka Allah akan menurunkan  malapeta senagai pelajaran untuk semua.  Allah tak ingin menurunkan musibah, tetapi manusia lah yang melakukan pengrusakan di muka bimi sebagai penyebabnya. 

Silakan baca saja buku tipis ini, sengaja tulisannya di setting singkat singkat saja, agar pembaca bisa membacanya sambil lalu, namun demikian setelah saya catatan singkat tentang para penulis, wah .... ternyata banyak penulis yang kenamaan yang sudah saya kenal sejak saya duduk di bangku kuliah, ternyata   ada juga bergelar Prof. Doktor, mereka adalah Dosen di berbagai Perguruan Tinggi.  Ada sejumlah mereka yang telah mendapatkan Penhargaan resmi karena aktivitas mereka menulis di bidang bidang tertentu.  Banyak juga mereka yang  penulis buku secara provesional, sesuaidengan mata kuliah yang mereka ampu,  Ada juga dintara mereka yang terselip sebagai penulis yang produktif, sudah puluhan  buku yang mereka terbitkan. Dan berita gembira tentu nya ternyata dalam penulisan buku ini bila di kelompok kelompokkan sepertinya kelompok seniman yang domnan.  Puisi mereka bertebaran, walaupun tulisan mereka singkat, tetapi kita mereka bawa ealam luas ini.  Silakan beli bukunya dan baca sendiri. 

Salam sehat untuk semua, terutama para penulis, istimewa Editor dan Penyelia. Satu kata yang tak boleh saya lupa ... Terimakasih. 




 

Selasa, 15 Juni 2021

KAKANDA NASRUN TELAH TIADA, ADAKAH KESEMPATAN ITUPUN LENYAP.

       



INNA LILLAHI wainna Ilaihi Rooji'uu telah meninggal dunia Kanda Nasrun, saya sangat mnaruh hormat  kepada almarhum saya berharap agar beliau ketika meninggal adalah dalam keadaan husnul khotimah, merupakan akhir yang baik. Kalau seandainya dinilai masih kurang baik maka saya mementa kepada Allah agar diampuni segala dosa dosanya, tetapi jika masih juga belum mencukupi saya berdoa lagi  agar semua amal kebajikan beliau dilipatgandakan ganjarannya, dan dilipatgandakan lagi, lagi dan lagi   Ya Allah, sehingga timbangan amalnya mencukupi  dan almarhum, disatukan dengan kumpulan orang orang mulia di syurga. Aamiin aamiin ya Robbul 'aalamiin. 


Dengan meninggalnya beliau maka sempurna lah saya telah menyia nyiakan sebuah kesempatan, pada saat itu ucapan beliau dan gagasan beliau sangat dihargai di FMAL sebuah lembaga adat buatan tetapi manfaatnya sangat tidak kalah, walaupun masih tergantung pengelolaannya, karena pendiriannya juga ternyata didukung oleh Pemerintah Daerah.

Beliaulah yang mengusulkan saya masuk ke lembaga itu dan sejatinya saya hepy hepy saja. Karena sebelumnya saya sudah  cukup mengenal tentang kecintaan beliau kepada Bahasa Lampung dan untuk itu beliau sepertinya telah memiliki sederet kata kata bermakna dari berbagai komunitas pendukung dan pengguna bahasa Lampung, Beliau demikian terampil mennjelaskan demikian luasnya makna ungkapan bahasa Lampung yang penuh makna dengan bahasa yang mudah dicerna. Saya teringat dengan sebuah buku hasil Penulisan Proyek Inventarisasi Budaya Daerah Lampung terkait kata lata bermakna Lampung yang dikumpulkan dari semua komunmitas pendukung dan pengguna Bahasa Lampung. Saya lupa siapa siapa saja Tim Penyusunnya, tetapi jika nama nama yang tercantum sebagai Tim Penulis Proyek tersebut adalah Hilman Hadikusuma, Rizani Puspawijaya, Razi Arifin, Syamsuddin dan banyak lagi yang lainnya. 


Saya menilai ada kecocokan saya dengan konsentrasi yang ditekuni oleh Almarhum Kanda Nasrun dalam melakukan studi dan research pribadi belia tentang hal itu. Beda dengan saya, saya hanya peneliti amatiran saja, lalu diperhalus oleh Bapak Budi Hutasuhud dari Lampos sebagai Peneliti Bebas Karyawan Kanwil Depdikbud, dan tulisan saya sempat beberapa kali menghiasi lembaran opini Lampos. Tentu tidak banyak yang sempat dimual Lampos pada saat itu, kata Budi Hutasuhud bahwa setiap kali Lampos memuat tulisan anda maka berarti  itu telah menyingkirkan puluhan tulisan lainnya. Kata Budi pada saat itu konsentrasi di Lampos. 

Saya menulis tentang Falsafah Piil Pesenggiri, ini bermula dari ketika dilaksanakan acara Dialog Kebudayaan Daeah Lampung, ternyata gagal menutup acara tersebut secara ellegan. Pada saat itu ada yang maju dan berbicara terlalu bersemangat memujikan Adat Istiadat Lampung, terlalu bersemangat dalam bicara sehingga lupa bahwa audien pendukung dan penglaku budaya Lampung terdiri dari dua kelompok yaitu Pesisir Saibatin dan Pepadun, keduanya selain banyak persamaan persamaan, tetapi ada diantaranya perbedaan perbedaan, Jika ada di satu pihak mungkin tak ada dihak laen. Jika lazim di satu kelompok, kurang di lazimkan dipihak laiinya. Ketika itu disampaikan sebagai pujian dan terlalu bersenabgat maka tak dapat dihindari adanya kekecewaan dalam melontarkan penilayan. Konten pembicaraan pada saat itu adalah Piil Pesenggiri, 

Pada sebuah pertemuan kecil,  Pak Kabid kami bertanya  " Ada gak ya cara menjelaskan Piil Pesenggiri yang tidak mengundang perdebatan ?" Ada pak jawab saya, semua terkejut dan sontak menengok kepada saya termasuk Kabis Kami. Saya menjadi kurang pede, jangan jangan pertanayaan itu ditujukan ke orang tertentu dan kecuali saya. Tapi saya menjadi gembisa karena saya dipercayai untuk nenpersiapkan bahan menjelaskan Falsafah Piil Pesenggiri sambil memperkecil adanya kontroversi ketika membicarakan Piil Pesenggiri.

 

Kanda Nasrun saya nilai sebagai orang yang tepat untuk diajak membicarakan masalah kekayaan falsafah dalam ungkapan ungkapan yang populer dalam bahasa Lampung, sesungguhnya beliau sangat terampil dan pastinya beliau sudah lama memberikan perhatian serius dalam masalah ini, untuk itu biasanya dibutuhkan orang atau pihak yang memiliki kemampuan yang seimbang atau bahkan lebih sehingga memiliki peluang yang luas untuk menggali pengetahuan yang sangat filosofi itu. Karena pembahasan bahasa tingkat tinggi praktisnya adalah membahas filsafat. Dan dunia filsafat semakin dibahas akan semakin jelas kedalaman dan keluasannya. Walaupun filsafat itu sejatinya tidak pernah anti   terhadap pertentangan dan perbedaan lainnya. Premis premis yang terkumpul dalam menemukan sebuah konklusi yang akan mempermudah setiap seseorang yang akan mendapatkan tuntunan berfikir secara konsisten. 

Seorang sahabat yang pernah menduduki jabatan sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Rd. Intan memberikan acungan jempol kepada saya sambil ceritera bahwa beliau pernah menampilkan tulisan ringan ketika Kuliah mengambil S3 di Fakultas Filsafat Gajahmada. Beliau mengatakn sejumlah kawan kawan sesama mahasiwa yang ikut membahas makalah itu dan bahkan dosen ikut memberikan pujian terhadap konsistensi Falsafah Piil Pesenggiri. Lalu sahabat tadi menganjurkan agar Falsafah Piil Pesenggiri itu agar dibahas dari berbagai aspeknya, agar bisa menjadi panutan bersama. 

Di situlah penyesalan saya, sebenarnya Bang Nasrun memiliki perhatian yang smhat dibutuhkanuntuk lebih memahamiPiil Pesenggiri karen Bang Nasrun memiliki perhatian khusus terhadap ungkapan ungkapan bahasa atau pernyataan pendek dalam obrolan obrolan keseharian dengan berbahasa Lampung, tetapi beliau bisa bicara panjang lebar tentang kedalamana ungkapan itu, baik dalam bahasa kelompok pesisir maun pepadun. Beliau selalu berpikir secara positip sehingga beliau memiliki kemampuan  berdialog panjang, saling mengisi,  dan sikap seperti ini sesungguhnya sanga dibutuhkan dalam mengembangkan dan mendalami falsafah Piil Pesenggiri. 

Mereka yang dari luar menilai bahwa falsafah Piil Pesenggiri adalah falsafah yang konsiten, oleh kaenanya kita harus memiliki kesediaan untuk menguji bersama dan sekali mendalami pemikiran seperti apa yang dimiliki Piil Pesenggiri sehingga banyak orang lain yang memujinya itu, Dan sesungguhnya keahlian almarhum dalam memahami sejumlah kata bermakana adalah merupakan sosok yang sangat tepat untuk dimintai kesempatan luang waktunya. Tetapi sayang beliau kiti telah tiada.  Saya sangat menyesal tak mampu memanfaatkannya, kini hanya doa yang bisa ku kirimkan untukKakanda. Tetapi saya yakin nanti akan bermunculan pihak pihak pihak yang juga mampu menggantikannya. semoga.....   

 

 

Rabu, 28 April 2021

KITA PERTAHANKAN PENGAKUAN BUDAYA LAMPUNG OLEH UNESCO


WARISAN KEBUDAYAAN ADALAH TAK TERNILAI HARGANYA, 
WAJIB KITA RAWAT BERSAMA

Sejatinya harus bersyukur Unesco teleh memutuskan sejumlah warisan "Buiadayatakbenda", jika tak salah simak sudah ada sekitar hampir empat puluhan macam budaya tak benda  dari Lampung yang telah diputuskan oelh Unesco dari sejumlah itu maka salah satunya sepengetahuan saya Falsafah Piil Pesenggiri tercatat sebagai peninggalan Budayatakbenda telah diakui oleh Unesco, tentu saja atas usulan  Pemda melalui Dinas yang membidang Pembinaan Budaya setempat. Saya pernah dikejutkan oleh kedatangan sejumlah mahasiswa peserta Kemah Budaya utusan Provinsi Lampung, mereka pada saat itu  adalah  tercatat sebagai mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi antara lain dari Jawa Timur, Yogyakarta dan juga Dari Mahasiswa Lampung. Mereka datang ke rumah atas petunjuk sebuah buku pegangan  untuk mengikuti Kemah Budaya yang disrlrnggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaam, dan pada saat mereka kendatangi saya ke rumah  mereka sedang mempersiapkan segala sesuatunya  sebagai prasarat peserta kemah buadaya dari Lampung. 

Arahan untuk menemui saya terkait dengan masalah ini cukup mengejutkan saya, karena saya merasa selama ini saya tak betnah dibubungi terkait masalah ini. Keputruisan Unesco sensiri    Menerima Piil Pesenggiri sebagai Warisan Budayatakbenda Provinsi Lampung, jika tak salah simah  ditetapkan sejak tahun 2017 yang lalu. Jika tidak salah simak telah diputuskan manakala terhitung sejak ditetapkan hingga empat tahu kedepan tak direspon oleh Pemda setempat  dengan berbagai usha bermanfaat untuk pembangunan kualitas manusia dan syukur syukur jika selain membangun kualitas manusia juga menghasilkan produkl produk yang mendatangkan keuntungan finansial. 

Diantara peninggalan buadayatakbenda antara lain tapis, gulai tabo, dan ada juga yang berbentuk seni tari dan seni sastra. Saya tidak yakin bahwa peninggalan ini hanya dimaksudkan sebagai  kemanfatan finansial semata. Peninggalan jenis Tapis adalah sangat mungkin. tetapi peninggalan semisal Falsafah Piil Pesenggiri tentu saja akan mengalami sedikit kesulitan. Tetapi bila kita harapkan akan membangun kualitas kemanusiaan melalui Falsafah Piil Pesenggiri itu nampaknya akan lebih siginifikan. walaupun kita juaga tidak tahu apakah Pamereintah Daerah sudah memberikan respon yang cukup terkait hal ini. 

Memang kita harus lebih banyak menulis temtyang Piil Pesenggiri agar penerus kita sebagai pendukung budaya Lampung memiliki sumber literatur yang memadai. Dan tentu saja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Instansi pembina harus memprogramkan dan memfasilitasi akan kemunculan buku bacaan terkait Piil Pesenggiri. Sesungguhnya Sudah berbilang jumlahnya mahasiswa Si, s2 dan S3 yang memilih Falsafah Piil Pesenggiri sebagai konten  Skripsi, Thesis dan Diskripsi yang akan mereka susun , mereka sudah banyak yang menyelesaikan dan bahkan telah dinyataan lulus dalam ujian.  Tentu saja berbagai jenis lomba bisa dilakukan apakah dalam bentuk seni lagu, ataupun puisi bisa meramaikan lomba  lomba itu semua, tetapi tentu saja uluran tangan dan pembiayaan dari pihak pemerintah sangat dibutuhkan. tentu sesuai dengan aturan keuangan yang berlaku. 

Disamping itu juga para pihak yang memiliki potensi membantu terselenggaranya  upaya untuk mengenali peninggalan kekayaan budaya ini bahkan untuk mengembangkannya. Kekayaan peninggalam kebudayaan tak benda Privinsi Lampung Piil Pesenggiri adalah sebuah pendidikan  bagaimana agar setiap seseorang itu memiliki sikap dan karakter memiliki konsistensi, bila masyarakat umum memiliki sikap yang konsisten, maka kemajian bagi masyarakat itu akan terselenggara. 

Jika ada seorang pemimpin saja yang memiliki sikap yang tidak konsisten, maka setiap saat masyarakat akan diancam suatu kerusakan, dimana kerusakan itu akan membesar dan semakin membahayakan. Melalui Falsafah Piil Pesenggiri ini  sikap konsisten itu ditanamkan. Pada saat ini Kemerdekaan Indonesia telah berlangsung selama 75 tahun, tetapi capaian kesejahteraan kita jauh di bawah beberapa Negara yang lebih kemudian dalam mencapai kemerdekaan. Mengapa kita terlambat, itu tak lain adalah karena kita banyak dipimpin oleh pihak pihak yang memiliki konsistensi buruk atau setidaknya kurang baik, Seseorang yang memiliki konsistensi yang baik, akan memiliki kemampuan untuk menuliskan dan mengucapkan apa yang mereka katakan, atau mereka hanya menuliskan dan mengucapokan apa yang mereka katakan. Kita sudah mengeluarkan uang banyak  untuk melatih para aparat bisa melakukan itu tetapi belum menunjukkan hasil yang menjanjikan. 

Padahal kita memiliki kekayaan yaitu sebuah filsafat, Falsafah Piil Pesenggiri adalah merupakan sesuatu yang akan menjadi kerugian besar manakala tidak kita manfaatkan Falsafah yang luar biasa ini, karewna falsafah Piil Pesenggiri adalah sekaligus meruapakan kekayaan kita.  Tentu kita akan lebih mudah memanfaatkan kekayaan milik kita, dibanding hanya memanfaatkan falsafah milik orang atau pihak asing. Mari kita upayakan agar masyarakat memiliki sikap konsistensi yang tinggi. Falsafah Piil Pesenggiri yang terdiri dari : Nemui Nyimah (produktiup), Nengah Nyappur (Kompetitip) Sakai Sambaia Sambaian (Kooperatip)  dan  dan Juluk  (inopatip). Sebuah Falsafah  yang menggambarkan  nilai nilai konsistensi yang luar biasa, seorang bercerita ketika falsafah ini disajikannya dalam diskusi mahasiswa S3 Fakultas Filsafat UGM mengundang decak kagum peserta diskusi. 

Memang memlalui falsafah ini jelas tidak semudah itu bisa mendatang hasil secara finansiasl. sehingga manakala Unesco tertapkasa harus mencabutnya karena tidak secara cepat kita tindaklanjuti  dan menghasilkan  grafik naik secara statistik apatah lagi finansial. Tetapi mengingat bahwa Falsafah Piil Pesenggiri ini harus kita kembangkan  baik diakui atau tidak diakui sebagai kekayaan peninggalan budayatakbenda oleh Unesco, dan terpaksa dicabut,  tetapi kita sebagai pendukung dan pelaku budaya Lampung hingga saat ini masih merasakan ini sebagai salah satu kekayaan kita  dalam menjaga keutuhan dalam bermasyarakat, walaupun keuntungan secara ekonomis masih jauh panggang dari api.         

Senin, 26 April 2021

SUMBANGAN M HIMYSRI YUSUF TENTANG FALSAFAH PIIL PESENGGIRI

SAYANG BELIAU TAK PANJANG UMUR  almarhum M Himyari Yusufa yang dengan penuh keyakinan menghabarkan bahwa Kata Pesenggiri itu berasal dari kata Pesenggekh ata Pesengger  di hadapan sejumlap Profesor beliau kelahiran dari Keluarga Anggota dan Warga pendukung dan pelaku Budaya Pepadun Tulang bawang beliau di Kampus UIN Raden Intan Bzndzr Lampung, terkenal segai tokoh yang memiliki perhatian yang serius kepada Kebudayaan Lampung dimana Iya dilahirkan. Apa yang ditulisnya dan yang diucapkannya serta apa yang dipikirkannya dihadapan Tim Pengji dengan dampingan para Akademisi terpilih. Beliau mengatakan bahwa Falsafah Piil Pesenggiri itu berasal dari kata kata dan Bahasa serta Pemikiran Pemikiran yang berkembang di Lampung. 

Pesenggekh atau Pesengger yang kelak menjadi Pesenggiri atau lengkapnya sebagai Falsafah Piil Pesenggiri itu berasal dari mekanisme desa tetapi bernuansa kekotaan  dan dari pilihan bahasa yang digunakan ternyata tidak terlalu terikat dengan suasa dan mental perkampunga atau pedesaau yang agraris, juga bermental kekotaan dan industrialis. Tetapi uraian berikut ini kita akan meneropong suasana dan situasi yang dihadapi oleh masyarakt yang memanfaatkan fasilitas jalan pada beberapa abad sebelum mencapai Kemerdekaan Republik Indonesia atau pada saat Falsafah Piil Pesenggiri tersusun.  Dalam hal ini maka keberadaan Kiyai atu Ustad tentu saja harus kita eksploitir karena pada saat itu sedang terjadi aktivitas dakwah yang gencar sehingga  kelak setelah Kemerdekaan jumlah penganut agama Islam emcapai 90%, akan kita bandingkan dengan hasil penelitian ditemukan bahwa 90% masyarakat pada saat itu mengalami buta huru, sedangkan dalam waktu yang bersamaan ternyata 80% dari ummat Islam sudah mahir membaca Al-Quran. 

Kita bisa bayangkan betapa panjangnya sebuah perianan dakwah pada saat untuk membuat ummat melek huruf al-Quran, demikian panjang dan seringnya perjalanan dakwah itu dilaksanakan, tetapi sejak dahulu  sudah menjadi rahasia umum bahwa dakwah itu diselenggarakan  justeru oleh para pedagang. Kemampuan masyarakat kota hingga jauh di desa desa di balik balik pegunungan atau dilembah lembah hingga garius pantai memiliki kemampuan membaca Quran dengan lancar, dan buta huruf Latin tidak menjadi masalah bagi ujmmat untuk merasa akrab dengan hurup alquran, apalagi pembelajaran membaca al Qyran itu  sejatinya diselenggarakan oleh para saudagar yang memimpin semua perjalanan perbiagaan, siang mereka berdagang dan malam mereka melaksanakan pengajian, baik belajar mengaji Quran maupun  terjemahan, fikih, tauhid, hadits serta tarikh Islam dan lain lain.  

FALSAFAH PIIL PESENGGIRI TERLAHIR DARI SEBUAH PERGUMULAN

PIIL PESENGGIRI terlahir bukan dalam proses sederhana, tetapi dari sebuah pergumulan maha berat setidaknya melibatkan masyarakat petani, kelompok pedagang, para alim ulama dan sejumlah kelompok yang hanya mengutamakan keuntungan dari yang usaha secara wajar sampai dengan mencari jalan termudah. Semula dibuka diskusi bahwa Piil Pesenggiri itu dari Kata Pasunggiri Kerjaan Udayana, lalu saya menawarkan kemungkinan pengaruh Kata Pasunggiri dari Kata Bahasa Sunda. Tetapi seorang peneliti kebudayaan yang sangat produktif menolaknya, "Teliti saja terus kata beliau Nanti akan kita Temukan Bahasa dan Istilah Pesenggiri itu sebagai Kekayaan Bahasa Lampung. 

Sampai pada suatu saat tampil seorang Himyari Yusuf Dosen Fakultas Ushuluddin yanng sedang menyusun Disertasi S3 nya di Fakultas Filsafat Universitas Gajahmada (UGM) Yogyakarta dalam disertasinya itu beliau mengatakan bagwa Lata Pesenggiri berasal dari Kata Pesenggekh atau Pesengger yang artrinya Perswis. Ternyata kata itu Bukan sembarangan, karena terjadi pergumulan Panjang yang tentu tak akan berlangsung sederhana, ternyata Udo Karzi benar. 

Akhirnya ketika Himyari Yusuf akan menyusun Disertasi S3 di  Fagultas Filsafat Universitas Gajahmada (UGM) beliau menemukan  ada kata yang paling dekat dengan kata Pesenggiri. Beliau meyakini kata Pesenggiri  berasal dari kata Pesenggekh (pesengger), dan kata kata itu memang masih terpakai  huingga saat sekarang.  Kata Pesenggekh (pesengger)  adalah untuk menggambarkan situasi bertemunya kendaraan dalam posisi berlawanan arah, jika yang satu dari Barat ke arah Timur dan yang lain lagi dari Timur ke arah Barat, maka titik pertemuan kendaraan itu lazim dizebut pesenggekh (pesengger).

Dalam situasi seperti itu maka manakala jalam dalam keadaan sempit maka keduanya harus mengurangi kecepatan agar masing masing bisa mengendalikan diri dan keberadaannya tidak menjadikan halangan bagi kendaraan lain untuk melaju. Sedang bila menemukan jalam dalam keadaan tak memungkinkan bersama sama melaju hatta berhati hati sekalipun, maka disepaklati salah satunya harus menghentikan perjalanan bagi siapa yang menemukan posisi agar bisa berhenti lebih menepi. Adanya kesepahaman antara satu dengan yangh lain  dalam berlalu lalang dijalan milik umum ternyata dijadikan gagasan menentukan  nama sebuah falsafah yang seyogyanya dianut secara bersama yaitu Falsafah Piil Pesenggiri yang berasal dari kata Pesenggekh atau (Pesengger) lalu dalam perkembangan sedemikian rupa menjadi Pesenggiri. Seyogyanya pandangan falsafah seperti itulah yang melahirkan atuan aturan baku dalam menggunakan fasilitas umum, lalu diterjemahkan dalam bentuk rambu rambu lalu lintas.

 

Tetapi situasi yang dihadapi  ketika Falsafah Piil Pesenggiri ini tersusun adalah dalam situasi ketidakpastian, bisa ketidak pastian hukum, ketidak pastian keamanan dan banyk hal lagi ketidakpastian  lainnya, seperti ketidak pastian keadaan alam, bahkan binatang dan lain sebagainya., belum lagi masalah  internal dan eksternal, serta sarana dan prasarana  dalam bertransportasi. Dalam situasi yang demikian itu    

Itulah sebabnya sejak awal  sayapun ikut meyakini bahwa  sejatinya Falsafah Piil Pesenggiri ini diciptakan oleh kelompok diluar kekuasaan, artinya dalam menyusun falsafah ini juga sangat melibatkan tokoh masarakat umum, hampir dapat dipastikan manakala  penguasa yang yang ikut menyusun sebuah falsafah  dan peraturan lainnya maka akan didominasi  oleh upaya upaya untuk memperkuat kelompok pemimpin atau penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya, atau nsetidak tidaknya  adalah untuk memaksakan pihak yang dipimpin  mengeluarkan sebagian dari kekayaannya  untuk selain untuk kesenangan atau kegembiraan para penguasa atau  untuk memenuhi kebutuhan  kebutuhan dalam transaksi dengan kekuasaan di luar Pemerintah, semisal transaksi  antara penguasa dengan pengganggu keamanan yang juga  sebenarnya telah memperkuat diri dengan tim timnya untuk  mendapatkan keuntungan yang bisa digunakan untuk mendapatkan kebutuhan yang diperlukan juga dalam  mempertahankan kemudahan dan  dan kenyamannya. Serting sekali para Penguasa memang harus lebih mengutamakan  terselenggaranya transaksi dengan pihak yang ingin berkuasa tetapi bukan dengan dalih kekuasaan, seperti dalih perniagaan  tetapoi mereka bermain mata dengan pembuat keonaran. Karena pada saat itu belun lagi masyarakat mengenal  teori teori Trias poliutika.  Yaitu adanya pihak Ekskutip, legislatif dan  ihak Yudikatip. Pada saat itulah  Falsafah Piil Pesenggiri itu terkahirkan.

Ditilik dari Struktur Falsafah Piil Pesenggiri itu sendiri maka diyakini bahwa pada saat itu sedang dikuasai oleh Penguasa yang memiliki kekuasaan yang sangat terbatas, dan kita bisa membandingkan dengan  Falsafah yang muncul di daerah lain yang sedang dikuasai  Penguasa yang memiliki kekuasaan yang tidak terbatas, maka akan nampak sekali  bahwa ada ubsur unsur yang nantinya akan dirasakan sebagai sesuatu yang bisa menguntungkan stu pihak dan akan merugikan atau  bahkan menidakkan pihak lainnya.

Kembali ke situasi riil yang dihadapai masyarakat dimana istilah Pesenggiri dari kata Pesenggekh itu  adalah dari sebuah mekanisme tersebarnya sebuah saebuah informasi penting, sesungguhnya ini sedang terjadi upaya pembangunan sebuah gedung pusat innformasi pada saat itu, di mana informasi  informasi ini sesungguhnya bisa ditangkap oleh para pihak yang memiliki  getaran getaran yang banyak digunakan oleh para pihak, sehingga berbagai informasi yang tentu saja harus dikemas sedemikian rupa sehingga memiliki peluang untuk saling terjadi pertukaran informasi antara semua pihak. Lalu secara langsung atau tidak langsung maka terjadilah rumusan yang terangkum dalam Falsafah Piil Pesenggiri.   

 Perwis atau Pesengger pada saat itu adalah bertemunya kafilan dengan kafilah lain, bertemunya  kelompok pejalan yang singkat dekat atau dekat dengan pejalan jarak jauh atau sama sama pejalan jauh  yang pada saat itu atau di daerah  itu membutuhkan sejumlah informasu informasi penting, informasi bisa meliputi  masalah kemanan terkait dengan cuasa, manusia maupun binatang ataupun kondisi jalan yang akan ditempuh.

Pertemuan dengan penggunaan atau pemanfaatan saat pesenggekh ataupun  pesengger ternyata  diam diam sejatinya adalah  sedang terjadi sebuah tarnsaksi  transaksi dengan cara cara yang lazim pada saat itu yang adalah tentu saja dengan berbagai kepentingan, katakanlah ada pihak yang melakukan perjalanan perdagangan, ada seedar anjang sana, tetapi sesunggunya ada juga yang melakkukan perjalanan dakwah. Dan tentu saja akan menjadi lumrah  

Kamis, 18 Februari 2021

32 MEMPERTAHANKAN KEARIFAN LOKAL MELALUI DUNIA AKADEMIS

SUDAH BANYAK MAHASISWA MEMINATINYA 

SALAH SATU YANG menyemangati saya untuk secara konsisten menulis tang Piil Pesenggiri adalah banyaknya rakan rekan teruitama mahasiswa yang menyatakan berminat menulkis tentang Piil Pesenggiri . dan saya pernah ditugaskan untuk memperkemalkan Falsafah Piil Pesenggiri kepada para peserta pelatihan yang diselenggarakan oleh Kanwil Depdikbud Provinsi Lampung, atas perintah Kakanwil, kewpada saya yang pada saat itu  saya ditugaskan untuk menjadi Sekretaris Korpri Subunit Kanwil Dikbud Provinsi Lampung. Kakanwil  meminta saya untuk menyampaikan sesuatu yang sejalan dengan program kita tetapi digali dari kekayaan daerah. Demikian  pinta Bapak Drs. H. Mbru Kanwil Dikbud Provinsi Lampung. Maka sayapun berusaha  untuk menyajikan Falsafah Piil Pesenggiri, dan pada saat itu  ada beberapa orang yang saya catat memberikan respon dalm bentuk penynyataan  yang menggambarkan keterkejutannya akan adanya Falsafah yangt muncul  di tengah  lambatnya perkembangan kemajuan Bangsa kita  setelah sekian lama kita Merdeka, dan ternyata ada negara yang belakangan merdeka, tetapi memiliki kesanggupan mendahului. 

Ceramah  ceramah saya tentang Piil Pesenggiri bersumber dari ceramagh yang disampaikan oleh setidaknya tiga Narasumber dari Universitas Lampung (Unila)  yang sering diundang di lingkungan Kanwil Depdikbud Lasmpung, ketiganbya adalah  Bapak Hilman Hadikusuma, Rizani Puspawijaya, dan Anshori Djausal. Secara bergantian  salah satunya selalu dominta untuk memberiokan Ceramah tentang Piil Pesaenggiori kepada Peserta pelatihan  yang diselenggarakan Bidang  Kebudayaan Kanwil Depdikbud Lampung. Tetapi selalu saja yang lain ikut memberikan tambahan informasi, menggaris bawahi. dan lain sebagainya, ini menujukkan bahwa ketiganya sangat konsen dengan Falsafah Piil Pesenggiori. 
 
 

Senin, 31 Agustus 2020

MENGENAL WARISAN BUDAYATAKBENDA LAMPUNG.

FACHRUDDIN
SEBAGAI MASYARAKAT  PENDUKUNG BUDAYA  Lampung selayaknya kita juga harus mengenal apa itu Warisan Budayatakbenda yang ada di Provinsi Lampung ini. Warisan Budayatakbenda  (Intangible cultural heritage disingkat ICH) adalah praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, atau keterampilan, serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang dianggap oleh UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya suatu tempat.. Warisan budaya tak-benda dianggap oleh Negara Anggota UNESCO dalam kaitannya dengan Warisan Dunia berwujud yang berfokus pada aspek-aspek budaya takbenda. Pada tahun 2001, UNESCO membuat survei  antara Negara dan LSM untuk mencoba menyepakati definisi, dan Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda  dirancang pada tahun 2003 untuk perlindungan dan promosinya.(Wikipedia Ensiklopedia Bebas)

Budayatekbenda  didefeinisikan sebagai warisan budaya takbenda sebagai praktik, representasi, ekspresi, serta pengetahuan dan keterampilan (termasuk instrumen, objek, artefak, ruang budaya), yang dikelompokkan, dikategorikan dalam beberapa kasus, individu mengakui sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Kadang-kadang disebut warisan budaya hidup, dan diwujudkan antara lain dalam domain berikut : Tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda; Seni Drama; Praktik sosial, ritual dan acara meriah; Pengetahuan dan praktik tentang alam dan alam semesta; Keahlian tradisional

Untuk  Daerah Lampung setidaknya telah menyematkan setidaknya 54  Budaya tak benda, yaitu : 1. Tapis, 2 Gamol pering, 3. Lamban pesagi, 4. Muawayak, 5. Siger Pengutten, 6. Tari Melinting, 7, Cakak Pepadun, 8. Gulai taboh,  9. Sakura Cakak buah, 10. Seruit, 11. Sulam usus, 12. Kakiceran,  13. Maduaro, 14. Tenun Ikad Inuh,  15. Tuping,  16. Warahan Lampung,  18. Bediom,  19, Nyambai,  20. Tari Bedayou Tulangbawang,  21. Badik Lampung,  22. Cangget Agung Lampung,  23. Dadi,  24.  Ketaro Adat Lampung, 25. Kias,  26.  Mekhatin,  27.  Nyubuk Majew,  28. Nyuhun Pahakh,  30.  Piil Pesenggiri,  31.  Sebambangan,  32. Siger Lampung,  Tari Bedana Lampung,  34. Tari Kiamat. 

  

Rabu, 05 Agustus 2020

DIA MEMANG MEMINTA DIJELASKAN ARTI PIIL PESENGGIRI

PENJELASAN PIIL PESENGGIRI MEMANG MEMBUTUHKAN WAKTU. 


SAYA MERESPON permintaan seorang ponakan untuk mendapatkan penjelasan tentang Falsafah Piil Pesenggiri, saya menganggap permintaan ini sekaligus mewakili mereka yang lain, sempat mendengar dan membanca tentang Falsafah Piil Pesenggiri, tetapi dari youtube ataupun tulisan / blog dengan informasi terbilang terbatas. sehingga tidak memiliki pengethuan yang tuntas tentang Piil Pesenggiri. Itulah sebabnya saya turuti permintaannya karena permintaannya mewakili orang banyak. Tetapiu saya sangat m,enyadari bahwa saya tidak akan mampu memenuhinya secara tuntas, selain karena keterbatasan, tetapi juga dalam  pembuatan Youtube ada pembatasan durasi, dan dalam menulis di blog dibatasi oleh kebosanan pembaca bila membacanya.

Oleh karenanya dengan penuh kesadaran, akan keterbatasan ini, tentu saja saya sangat berterima kasih atas segala krtitik dan saran, tetapi yang akan lebih memuaskan bagi kita semua, adalah manakala muncul mereka penulis yang lebih baik dan muncul youtuber yang lebih mampu membuat youtube yang selian lebih indah dan lebih informatif. Saya mencoba untuk menulis di blog ini setidaknya memiliki korelasi dengan dua youtube, yang pada saat ini baru terselesaikan satu youtube (30).  


Kata Pesengger, sebagai asal dari istilah Pesenggiri, saya mengutip dari sahabat saya Dr. Himyari Yusuf. Beliau menulis bahwa kata Pesenggiri itu berasal dari kata Pesengger yang artinya perwis. Saya langsung setuju karena kata pesengger adalah kata kata yang paling dekat dengan Penggiri, dan maknapun selaras. Dalam perwisnya kendaraan di lalu linyas yang bisa suatu saat terjadi kepadatan, maka saling memudahkan dalan jiwa pesengger itu adalah sehalan demngan Piil Pesenhngiri secara umum.  Jadi Piil Pesenggiri adalah sikap untuk saling memudahkan dalam upaya mencapai tujuan. Adapun cara untuk saling memudahkan itu adalah melalui (1). Nemui nyimah, (2) Nengah nyappur, (3) Sakai sambayan dan (4) juluk Adek.

Nemui nyimah itu adalah kemampuan bertamu dan menerima tahu, dalam dalam proses pertemuan  (nemui) itu bersikap simah artinya santun. Santun itu adalah kemampuan mengakomodasi keperluan, pemikiran, gagasan dan keperluan orang lain. Untuk itu maka setiap seseorang harus produktif, yaitu kemampuan memproduksi sesatu melebihi kebutuhan dirinya  dan orang orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Nengah nyappur, operasioonalnya adalah kompetitip. Nengah itu memiliki tiga arti, yaityu kerja keras, berketerampilan dan berdayasaing. Nyappur itu penuh toleransi. Seseorang bekerja keras agar memiliki kemampuan produksi melebihi kebutuhannya, sehingga memudahkan orang lain yang membutuhkan produknya.

Sakai Sambaian operasionalnya adalah koperatip. Sakai berasal dari kata sekai atau kakkai. Akai artinya terbuka atau terurai, kakai artinya siap  dinilai/ evaluasi.  Sambaian berasal dari kata sambai atau sumbai artinya mengasihi atau menyayangi, atau memelihara. Sakai sambaian artinya siap[ memberi dan siap memberi, siap dinilai/ evaluasi dan menuilai dan mengevaluasi.

Juluk adek opwerasionalnya adalah inovatip. Juluk adalah nama baru selain nama waktgu lahir, nama juluk diberikan setelah ada prestasi atau mampu membuat cita cita atau rencana, dan adek diberikan nama yang baru lagi setelah cita cita itu tercapai. 



Minggu, 02 Agustus 2020

PENGARUSUTAMAAAN FALAFAH PIIL PESENGGIRI DALAM KARYASASTRA.

FALSAFAH PIIL PESENGGIRI  yang kini resmi tercatat sebagai budayatakbenda yang ada di wilayah Provinsi Lampung adalah sesuatu yang harus diterimakan kepada masyarakat, mulai dari masyarakat awam, masyarakat poendukung adat dan Budaya Lampung, masyarakat pendatang, para ilmuan, siswa siswi, mahasiswa serta para akademisi lainnya. Danb teristimewa para seniman sastrawan Lampung, yang memiliki kemampuan spesial untuk mengunjungi audien masing masing di manapun berada. Artinya untuk memelihara dan merawat Falsafah Piil Pesenggiri tidak tergantung hanya sekelompok orang, apatah lagi hanya seseorang. Danb diantara mereka yang memiliki potensi menerima, memelihara dan mengembangkan atau mempublikasikan Piil Pesenggiri adalah seniman dan sastrawan  Daerah Lampung. 

Salah satu yang harus menjadi fokus untuk diajak membantu mempublikasikan Falsafah Piil Pesenggiri adalah Seniman sastrawan daerah Lampung, mereka memiliki alat, kata kata/ ucapan, tulisan, yang memenuhi kaidah kaidah keindahan, dan sejatinya akan lebih mudah diterima oleh masyarakat  dari segala lapisan dan status dan bukan hanya penduduk setempay tetapi juga pendatang. Bahkan orang asing sekalipun.


Sungguh bahasa seni itu adalah bahasa yang universal, yang memiliki kemampuan menembus batas dan segala pagar halang rintangan dalam bentuk perbedaan,.dan apapun namanya. Dan bahasa seni merupakan bahasa yang paling gampang dianggap layak digunakan dalam terlalu banyak situasi yang tidak direpotkan oleh berbagai persaratan.

Sebagaimana dialami sebuah upaya penulisan konsep Buku Kamus Bahasa Lampung Belanda, segala konsepnya telah tertulis  dan dinyatakan siap cetak tetapi terpaksa tertunda karena tium belum mampu menangkap garis merah falsafah yang dianut masyarakat setempat, ada sesuatu yang masih kontroiversi antara yang satu dengan yang lain, dan dalam waktu bersamaan karya sastrapun menjadi seolah hilang ditelan bumi. Andaikan saja karya sastra itu bisa ditemukan, maka para pakar  bahasa itu akan dengan mudah menelusuri benabf nerah falsafah yang sangat samar itu.


Nampaknya ditinaju dari sisi tertentu sesungguhnya seni sastra itu "Bersauadara Kembar"  (dalam tanda kutip) apalagi kesenian dalam dunia filsafat adalah cabang Filsafat yang terlalu banyak peminatnya, yaitu  Filsafat seni.  Itulah sebabbnya Pwemerintah seyogyanya berkenan menyiapkan dana untuk membiayai Pelatiuhan bagi para seniman/ sastrawan dalam upaya menjadikan Piil Pesenggiri sebagai Arusutama Pencipataan Karyaseninya. Falsafah Piil Pesenggiri adalah salah satu peninggalanbuadayatakbenda yang diakui oleh WHO, dari yang masih sedikit itu.

Bagaimana pendapat anda .... ?   

Jumat, 31 Juli 2020

HIDUPKAN SEKTOR SENI UNTUK FALSAFAH PIIL PESENGGIRI

DUNIA PENDIDIKAN LEBIH HIDUP dalam merespon Falsafah Piil Pesenggiri, sementara dunia seni seperti terjadi keengganan untuk melebur ke dalam dunia Piil Pesenggiri. Dulu pernah muncul tulisan Siswa SMA, sekarang tak terbilang Skripsi Mahasiswa Konten Piil Pesenggiri. Sudah banyak Thesis Mahasiswa dengan Konten Falsafah Piil Pesenggiri. Dan secara mengagumkan muncul Disertasi  juga dengan Konten Falsafah Piil Pesenggiri. Sulit bagi saya darimana awal mulanya tulisan tulisan tentang Piil Pesenggiri itu bermunculan, dan saya ingin memastikan  bahwa pastiunya berawal mula dari apa yang diucapkan oleh Bapak/ Ibu Guru dan Bapak/ Ibu Dosen. Dengan posisi yang satu ini merupakan sesuatu yang sangat strategis untuk mendorong siswa dan mahasiswa menulis tentang Piil Pesenggiri, walaupun dengan resika akan membantu mahasiswa atau siswanya menemukan bahan bacaan. Dipastikan bahwa itu merupakan sesuatu yang tak sanggup dilakukan dari posisi kami, dan saya pada saat masih aktif bekerja di suatu lembaga pemangku kepentingan pada saat itu, apatah lagi setelah pensiun sekarang ini. Suatu perubahan yang benar adalah bermula dari kelompok intelektual.



 Jika dalam dunia pendidikan maka resikonya adalah, lulus dan tidak lulus. Maka dalam dunia seni juga ada persoalannya, yaitu laku apa tidak laku. Produk seni itu harus mempertimbangkan laku atau tidak lakunya di masyarakat. Apalagi  berdasarkan sejarah yang semua orang mengetahui bahwa pernah terjadi kesalahpahaman kuomunitas Lampung terkait dengan pem,bicaraan masalah Piil Pesenggiri. Sehingga termasuik Kanwil Depdikbud Provinsdi Lampungh yang dibebani pembinaan Kebudayaan, dan tentang Falsafah Piil Pesenggiri ini posisinya menjadi binaan dari Bidang Musjarah Kala termasuk di dalamnya Inventarisaj dan Pembinaan Nilaio Nilai Budaya Daerah Lampung.

Tetapi Alhamdulillah, berbagaipihak mendukung kita melakukan penggaliuan dan perndalaman Falasafah Piil Pesenggiri pure pendekatan filoisofis. Dan itu dilakukan dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Dan akhirnya Piil Pesenggiri berhasil diselamatkan menjadi peninggalan budayatakbenda, dan secara resmi tercantum dalam dalam Buku 2. Ada 20 lebih Peninggalam Budayatakbenda Provinsi Lampung  dan salah satunya adalah Falsafah Piil Pesenggiri, bahkan falsafah Piil Pesebnggiri telah menunjuk seorang Maestro., yang masih bisa dihubungi secara langsung menggunakan media yang lazim, karena yang bersangkutan hingga sekarang masih menulis tentang Piil Pesenggiri dan juga telah mengapload sejumlah Youtube dengan konten Falsafah Piil Pesenggiri.

Selasa, 28 Juli 2020

SEMASNGAT BAPAK MUH. MBRU

BAPAK MUHAMMAD MBRU, adalah Kakanwil yang berikutnya ketika Kami dari Bidang Kebudayaan seang berusaha keras untuk mensosialisaikan Falsafah Piil Pesenggiri, walaupun mulanya hanya sebatas memberikan motivasi Kepada Penilik Kebudayaan agar tetap merasa sebagai Bagian yang tidak terpisahkan dari Komunitas Pendukung Budaya Lampung. Jika Kakanwil sebelumnya terkesan datar saja ketika membicarakan masalah Kebudayaan derah Lampung, Maka Kakanwil Bapak Muh. Mbru terkesan bersemangat dan meletup letup. Untuk kegiatan tambahan seperti sosialisasi serta pembinaan bagi para anggota Korpri umpamanya, maka tonjolkanlah kekayaan Budaya Lampung, kata beliau bersemangat, dan ini juga merupakan peluang dan penyemangat bagi saya  yang terlanjur dipercaya merumuskan pendekatan Falsafah Piil Pesenggiri sehingga memungkinkan bisa diterima oleh semua pihak.

Sayapun menjadi semakin leluasa untuk bisa meperkenalkan apa itu Falsafah Piil Pesenggiri dengan menggunakan pemikiran falsafah daerah dengan dukungan sosiologis, dan psikologis. Dengan Rumusan Sukses dan Harga diri yang berisikan : (1) produktip, (2). kompetitip,  (3) koperatip dan (4) inopatip. Sebagai makna serta operasional dari Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Sakai sambaian dan Juluk Adek.


Pak Mbru yang saya kenal, orangnya bersemangat, jujur dan sederhana. Pada suatu Waktu seusai satu acara Diselenggarakan oleh Museum Lampung, beliau dimintai menyampaikan sambutan dalam acara yang diselenggarakan oelh Museum Lampung, Tiba tiba audien ada yang menanyakan sesuatu kepada beliau. Seusai acara itu beliau memanggiul saya, katanya, "Coba datangi kantor Bapak yang bertanya Tadi Jelaskan semua oleh kamu apa yang kamu tahu, Nanti laporkan kepada saya apa hasilnya.  Beliau mengatakan tidak tepat waktunya un tuk menjawab pertanyaan itu langsung, karena tiudak sejalan dengan acara yang diselenggarakan.

Saya tidak datanh ke kantornya, tetapi saya mendapatkan kesempatan untuk mewakili sebagai utusaan dalam acara yang diselenggarakan oleh Universitas Lampung, dalam kesempatan itu saya menjelaskan secara lebih gamblang, selain acara itu dihadiri oleh para pejabat dan juga budayawan. Saya sampaikan latar belakang mengapa Kanwil Depdikbud pada saat itu mengambil jalan pintas, yaitu menggunakan pendekatan filosofis, dengan dukungan sosilogis serta psikologis, menghindari Adat Istiadat serta pendekatan antropologis, kecuali dalam ukuran terbatas.

Ketika itu, para pimpinan sudah banyak berubah berganti personil. Yang saya ingat Rektornya baru, dan saya baru pertama kali jumpa, tetapi sambutannya sangat mengesankan karena kata beliau, pertemuan kita kali ini adalah panggungnya Orang Pringsewu. Beliau memperkenalkan diri dan dikatakan sebagai Putra Kelahirad Daerah Pringsewu, Dan nanti akan ada pembicara lain yaitu Farida Ariani juga dari Pringsewu, dan ada Pembicara yaitu Bapak Fachruddin, beliau juga kelahiran Pringsewu, tepatnya Pagelaran.  Saya terhenya, karena ternyata kami pembicara telah dicatat identitasnya.  Hehe cumah kenangan aja koq.

Kenangan yang indah memang lebih menyenangkan.

Minggu, 26 Juli 2020

TERIMA KASIH DATUK ROSIHAN ANWAR

LORONG PANJANG PIIL PESENGGIRI  DIGELAR OLEH ROSIHAN ANWAL

INI BENAR BENAR DI LUAR perhitungan saya, perhitungan anda dan perhitungan kita semua.  Siapa nyana seorang Rosihan Anwar yang terlahir di Desa Kubang Nan Duo, Sirukam, Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada 10 Maret 1922, Hanya dengan beberapa patah kata, telah menhipnotis saya untuk konsekwen menulis tentang Falsafah Piil Pesenggiri, sejak tah 1988 hingga sekarang 2020 terlebih dengan kedatangan 4 (empat) orang Mahasiswa mewakili Grupnya sebanyak 7 (tujuh) orang mahasiswa lainnya, dari Jawa Timur. Yoguakarta, dan diantaranya ada Mahasiswa UIN Rd. Intan Lampung yang Kampuisnya tak jauh dari rumah kediaman saya. Pertemuan mereka sebagai Peserta Kemah Budaya Pemuda 2020, secara kebetulan mereka itu adalah Telah berteman sejak masa SLTP di Kotabumi, Kedatangan mereka ke rumah kediaman saya Tak terlepas dari sepengal Kalimat Yang diucapkan oleh Datuk Rosihan Anwar. 

Perbedaan Usia saya yang dilahirkan tahun 1954, selisih 32 tahun, tentu tak sopan saya memanggil ayah, sejatinya harus panggil Datuk. Datuk Rosihan Anwar. Kalau Kamu Paham Falsafah Piil Pesenggiri, Jangan cumah bicara Tetapi Tulis Banyak banyak, kirim ke saya satu dan Kirim Ke Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Satu. Lalu apakah Bapak menulis tentang Piil Pesenggiri tanya mahasiswa peserta Kemah Budaya itu?, Iya jawab saya saya segera menulis, Apakah sudah dikirim tulisan itu ?. Tidak ... ! Jawab saya. Para Mahasiwapun berteriak kecewa. Sejatinya para Mahasiswa itu ingin melihat tulisan saya yang mereks anggap bersejarah itu, ternyata tak terjadi.  

BACA NASKAHNYA DI FACHRUDDIN FGD BLOG



Tulisan tulisan saya yang ada bukan hasil pemikiran yang langsung terformulasi secara utuh, selain membuthkan waktu, juga nampaknya membutuhkan sejumlah pengalaman dan pemgetahuan, pengalaman dan pengetahuan itu ternyata juga seiring berbagai pristiwa. Namun saya tidak menyesali saya tak mengirim satu huruppun kepada Datuk Rosihan Anwar, tetapi berbagai pengalaman itu sebagian sudah saya tuliskan di Blog saya, saya sampaikan di berbagai seminar dan diskusi.

Saya bergembira tulisan saya ditangkap sejumlah dosen dan tenaga pengajar lainnya, saya bergembira sekarang banyak mahasiswa yang menyelesaikan studynya dengan mengambil konten Piil Pesenggiri debagai koneten, skripsi, Tidak kurang dari seorang Prof. Damroh Khoir sebagai penguji Thesis saya di S2 tempo hari menyesalkan, mengapa anda tidak menulis tetng Piil Pesenggiri katanya, tulisan kamu beberapa kali muncul di media massa, jika kamu tuliskan sebagai Konten Thesis kamu maka kamu memiliki tulisan yang utuh tentang Piil Pesenggiri, katanya bernada kecewa.

Iya .... saya salah mengambil kesempatan ini.

Sabtu, 25 Juli 2020

INI TUGAS BAPAK SELAKU MAESTRO PIIL PESENGGIRI

BISA JADI MEREKA KECEWA. atau setidaknya merasa terkejut, setelah mereka berusaha mencari sdaya dan mereka ketemukan saya hanyalah seorang pensiunan PNS ASN biasa, saya bukan seorang akademisi yang memiliki sebaris gelar gelar akademis, yang tidak mudah diraih oleh orang biasa. Nama Bapak kami temukan dalam Buku Katalog Peninggalam Buadaya Tak Benda. Salah satu benda itui yang terdapat Lampung itu, hanya ada satu Maestronya, yaitu Fachruddin yang beralamat di Perum. Korpri Blok A1. No. 6 kata mereka,  Iya ... itu nama dan alamat saya, tetapi saya tak tahu jika saya ditunjuk sebagai Maestro temtamh salah satu peninggalam budayatakbenda yang bernama Piil Pesenggiri itu. Bahkan jika saya boleh memilih, maka saya akan mengusulkan nama Anshori Djausal,  karena kepada beliau saya banyak mengambil pengetahuan tentang Piil Pesenggiri.

Buku Katalog ini diterbitkan tahun 2018 Pak kata mereka, mungkin Bapak bisa mengingat ingat di mana Bapak pernah tampil di farum umum. Tetapi jika kami mencari di gogel, memang nama Bapak yang akan mudah dicari, karena tulisan Bapak dan bahkan Youtube dan acun pribadi Bapak yang memuat konten Piil Pesenggiri kami temukan atas petunjuk google, kata mereka.

Ya sudahlah ...., jika memang kalian berniat ingin riset dan menulis serta membuat youtube tentang Piil Pesenggiri, saya bisa bantu seberapa butuh, sebatas apa yang mampu saya informasika. Demikian kesepakatan saya kepada sebanyak 7 (tujuh) orang yang tergabumng dalam Peserta Kemah Buadaya Pemuda 2020 Lampung. Yang dielenggarakan oleh Kemendikbud. Ketujuh orang  Mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas terakhir mereka di Kampus masing masing ini, ada yang kuliah di Daerah Jatim, Yogyakarta daln Lampung, dan ada tiga orang diantaranya justeru kuliah di UIN Lampung yang kampusnya tak jauh dari tempat saya tinggal.


Walaupun saya tercatat beberapa tahun sebagai Dosen di Fakultas Ushuluddin UIN Lampung, tetapi hanya Disen Luar Biasa saja, itu bermula karena ada sejumlah Dosen yang melanjutkan Studi di tanah Jawa, jadi saya di mina memebri kuliah.  Bapak M. Ghozi Bandri memberikan peluang kepada saya, bahkan mendorong dorong agar mempersiapkan diri sebagai akademisi, dan saya diminta memebrikan mata kuliah karena mata kuliah yang ynag dosennya sedang menyelesaikan kuliyah. Dan itu merupakan pengalaman baru bagi saya.  Ketika Pak Ghozie Badri mendapatkan Kepercayaan puncak, saya memberanikan diri masuik ke ruang kerja beliau, dan menyarankan agar mempermudah Dosen Dosen melanjutkan study ke S2, dan S3.

Tetapi yang agak unik ketika saya dimunta oleh Bpk. Burhanudin untuk selang seling membantu beliau menyajikan mata kulah, setelah memberikan penjelasan secukupnya saya diminta masuk ke kelas, konon kata mereka ysempat melihat, ada sekitar sepulunh menitan Beliau berdiri di balik pintu, sesudah itu beliau perghi, ketika saya selesai memberikan kuliah, beliau bicara seterusnya Fachruddin saja yang menyajikan mata kuliah ini. Ya memang sejak menit awal selain memperkenalkan nama, saya menjelaskan maksud dan tujuan mata kuliah serta pembagian tugas kami berdua dengan Dosen Pengampu, yaitu Bpk. Burhanuddin. Barangkali itu test. lalalu saya dianggap serius. Homornya pada saat itu lumaian besar, macamnya honor saya itu ditambah oleh beliau. Karena jumlahnya melebih yang saya tandatangani. Alhamdulillah.

Ketika Pak Ghozie tidak lagi menjabat sebagai Rektor, beliau mendapat tugas sebagai sebagai Dosen mata kuliah Filsafat Kebudayaan, bagi mahasiswa  terbilasng semester awal, jelas saja beliau tidak konsentrasi full. Beliau mungkin ingin sedikit dapat menggunakan waktu luang, yang selama ini selalu saja disibukkan oleh tugas tuigas administratif dan menerima tamu serta berbagai rapat. Saya kembali ditugaskan untuk membantu beliau. Honorarium terbilang menggembirakan. Mungkin karena mantan Rektor pastinya tak menggubris uang receh. Hehe.

Tetapi diantara mereka itu maka Pak Mahmud orang yang lumaian banyak saya sadap ilmunya, cukupo sedikit pertanyaan pancingan, Pak Mahmud bisa bicara banyak, melebihi yang saya butuhkan, Walaupun saya juga akadang agak repot karena beliau sering bertanya sudah baca buku ini apa belum?, demi gengsi saya bilang saja sudah sedikit, lalu beliau bicara, tetapi sayang kurang paham, sadar bahwa dari wajah saya, saya tak paham, maka Pak Mukmud bilang teruskan membacanya, nanti kami paham.
Saya merasa dekat dengan Pak Mahmud ketiuka kami mandi bersama sama disebuah Pangkalan Mandi, ketika kami minap di Kediaman Pak Burhan di Kalianda, ketika beliau akan melangsungkan pernikahan.

Paling berkesan bagi saya ketikan Pak Mahmud Menyajikan Mata Kuliah Filsafat Modern, dalam Program S1.  Mereka benar benar Guru Saya. di Program Strata Satu. dulu. Begiutu juga Dosen yang lain. Ketika saya Mengikuti Program S2, di lain Jurusan, Saya ambil Ilmu Tarbiyah Jurusan  Kurikulum. saya baru sadar bahwa ternyata Disiplin Ilmu saya di S1 sangatlah membekas dan Mewarnai Pikiran saya . Mungkiun senadainya saya masiuk S3, maka Ilmu S1 saya itu pasti hadir mewarnai pikiran saya.  Yakin saya. Bapak Bapak :  M. Ghozie Badrie, Burhanuddin, dan Mahmud Yusuf mewakili semua dosen saya di S1 dahuku. Untuk sementara saya adalah satu satunya  Maestro sebuah peninggalan Budayatakbenda Falsafah Piil Pesenggiri.  Dao saya tak putus, untuk para guruku semua.  semoga menjadi barokah dari Allah yang selalu melimpah. Aamiin. 

Rabu, 22 Juli 2020

AKTUALISASI PIIL PESENGGIRI ITU MEMANG DIBUTUHKAN.

FACHRUDDIN FGD
DAHULU UPACARA DAUR HIDUP menjadi andalan lembaga adat untuk mengaktualisasikan piil pesenggiri, utamanya bagi mereka yang diupacarai, para penglaku upacara, mereka yang menghadiri upacara, serta mereka yang terlibat atau diperlukan, atau diperbolehkan hadir dalam upacara itu. Tetapi seiring perjalanan waktu selain terjadi perubahan dan semakin upacara daur hidupitu jarang dilaksanakan seperti dahulu lagi, karena pelaksaanaanya cenderung praktis kemat, sehingga tak mungkin lagi dijadikan andalam sebagai media pendidikan dan untuk aktualisasi Falsafah Piil Pesenggiri.

Dengan semakin pudarnya kemampuan peran Lembaga Adat mempublikasikan dengan mengaktualisasi nilai nilai Piil Pesenggiri maka sesungguhnya peran  Pemerimntah Daerah sangat dibutuhkan agar bisa memfasilitasinya. Sebenarnya sudah lama Pemerintah Pusat memfasilitasi ini semua melalui Proyek Inventarisasi Nilai Nilai Budaya Daerah , dengan cara penelusuiran melalui pendekatan Antropologis.

Sebenarnya hasil hasil Proyek Inventarisasi itu diharapkan bisa ditindaklanjuti  terutama di sekolah sekolah di bawah bimbingan para guru terkait, disejalankan dengan  sylabus dan kurikulum  yang berlaku. dan juga masih diberikan kesempatan dengan cara membentuk atau melaksanakan Kurikulum Lokal, sepanjang sejalan dengan tujuan Pendidikan Nasional. Selain itu Pemda juga dapat melakukan pemanfaatan potensi masyarakat, ulamanya budayawan, seniman,

Kita memberikan penghargaan dan apresisasi setinggi tingginya kepada Pemerintash Daerah Provinsi, Kabupaten, Kota yang dahulu pernah menyiapkan sejumlah dana sekedar stimulus bagi mereka yang berkenan menciptakan lagu daerah, selain itu membantu upaya agar lagu tersebut bisa masuk ke dapur rekaman, baik dinyanyikan sendiri oleh pengarangnya, ataupun menggunakan suara  penyanyi lain yang bisa atau lebih cocok dan lebih berpeluang untuk menciptakan lagu yang lebih merdu. Dan sejumnlah ahlipun dilibatkan untuk proses seleksi. Seyogyanya peran seperti itu juga bisa diperankan oleh Pemda untuk aktualisasi Piil Pesenggiri.

Sebagai Gambaran  awal yang menyeluiruh kita bisa menghimpun sejumlah Variabe; sebagai kekayaan Piil Pesenggiri, mari kita telusuri mulai dari judulnya. Judul atau merk falasafaj ini adalah Piil Pesenggiri : Fariabel terdiri dari :  1. Piil. 2. Pesenggiri, 3.Nemui, 4 Nyimah, 5. Nengah, 6. Nyappur, 7. Sakai, 8. Sambaian,  10. Juluk, 11. Adek.  Kita lihat bahwa mulai dari judul sampi dengan unsurnya disusukn berpasangan. Mari kita terjemahkan. Piil Artinya harga diri, pesenggiri artinya saling menghidupkan.
Lanjut | Nemui artinya pertemeuan, Nyimah artinya Santun. Nengah artinya bersaing, nyappur artinya toleran. Sakai artinya siap menerima, sambai artinya Memberi. Juluk artinya, nama baru atau prestyasi baru. Adek artiunya paripurna. 
Mari kita lihat Operasionalnya. Nemui Nyimah operasionalnya Produktif. Nengah nyappur operasional Kompetitip. Sakai sambaian Operasonalnya Kooperatip dan Juluik adek operasionalnya
Inovatif.. Jadi Piil Pesenggiri itu terdiri dari (1) Produktif, (2) kompetitip, (3) Koperatif dan (4) inovatip. Dari unsur yang keempat Inovatip,  itu akan nampak bahwa  kehidupan itu akan berputar terus tampa henti sampai tidak lagi memiliki kemampuan  untuk melaksanakan unsur Piil Pesenggiri. Setelah inovatip artinya akan muncul keharusan, untuk produksi, kompetisi, koperasi dan seterusnya.

Kalau adik adik  dari peserta Kemah Budaya Pemuda utusan Lampung ingin berpartisipasi menyusun semacam buku pintar sebagai tuntunan bagi Siswa Kelas IV Sekolah Dasar hingga kelas XI dan XII Sekolah Lanjutan atas sederajat, maka melalui pintu sebenarnya sangat terbuka dan dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan banyak pilihan, dan santa besar kemungkinan juga akan menemukan fariabel penghubung dari fariabel fariabel yang ada  dalam fariabel Piil Pesenggiri.

Selamat Mencoba.