Kamis, 10 November 2022

MENYIMAK DUA PROFESOR DI SONETA UNIVERSITY

'  


JELAS ILMU SAYA tak akan mampu mengapresiasi sebuah pertemuan penting dua Profesor yang dengan mudah akan ditolak oleh orang orang terutama bagi mereka yang kurang memilikiu kemampuan mengapresiasi porestasi prestasi mereka yang yang saya ikut mencoba coba untuk mengapresiasinya. Dua tokoh yang sangat saya hormati itu. Prof Roma Irama adalah sosok yang tak saya temukan duanya.  Ampun ... saya tak tahu berapa lagu yang diciptaklan dan juga sebagian besar  besar ciptaannya itu justeru dia sendiri yang menyanyikannya, dan ketika Dia menyanyikan lagu lagu itu Dia sendiri memagang sebuah alat Instrumen, khususnya guitar, dan Gitar Bang Roma banyak sekali pernak perniknya. 

Selain lagunya menarik umumnya banyak sekali yang bisa mengikutinya, sehingga banyak kita yang mencoba untuk menyanyikannya. Tetaoi ada yang sangat mengejutkan, diceritakan bahwa pernah Bang Roma ditemua sejumlah


Profesor   dari  dan mengatakan bahwa Irama Dangdut menjadi kajian di Universitas tempat mereka berprofesi, dan ada sejumlah Mahasiswa  telah melakukan penelitian dan menulis dan mempertanggungjawabkan secara akademis  hasil tulisan dan penelitian mereka itu dan selanjutnya dinyatakan lulus dengan baik oleh para penelitinya. 

Dan hebatnya lagi  bahwa seoerti apa yang dituliskan oleh Makasisha para peneliti tersebut, bahwa  Lagu lagu irama dangdut  Roma Irama selain banyak Penggemarnya ternyata Irama dan lagu lagu itu banyak mempengaruruhi sikap sikap para penggemarnya.  Para penggemarnya  selain suka kepada berbagai perubahan dan mereka selain menyukai juga mempertahan perubahan perubahan sikap yang dipengaruhi itu. Dan mereka menyatakan bahwa Perguruan tempat mereka mengabdi telah berketetapan hati untuk mengangkat dan menganugerahi Roma Irama dengan gelar Profesor  Honoris Causa. 


Prof. Oma Irama si Prof.  Dangdut yang dihargai justeru oleh Perguruan Tinggi dari Negara Maju, Berjumpa dengan Prof.  Rocky Gerung,  Profesor yang satu ini juga tak kalah unik, beliau mendapatkan gelar Prof. itu adalah dari kawan kawannya mengajar. Si Jago Ilmu Filsafat ini sebenarnya sudah malang melintang di berbagai Fakultas, sehingga belaiau memiliki hak untuk memakai lima macam Jaket kuning UI, lima Fakultas di UI yang pernah dihinggapinya. Selain di UI belaiu juga sempat ambil mata kuliah Filsafat di UIN Syarif hidayatullah Jakarta, tetapi semua Fakultas tak diselesaikannya, karena Ia merasa sudah mendapoatkan poinnya. 

Karena dorongan Fakultas Filsafat UI  beliau terpaksa menyelesaikan Study Fakultas di UI. Rocky Gerung Alumni S1  Filsafat di UI.  Selama lima belas tahun beliau mengajar di UI, ketika UI membuka Program S3 Fakultas Filsafat UI beliau dimintai menyusun sejumlah mata kuliah untuk digunakan di UI, sayang hanya beberapa mata kuliah saja yang tersedia Dosennya, sejumlah mata kuliah lainnya terpaksa disajikan sendiri oleh Rocky Gerung, selama 15 Yahun Rocky mengabdi tetapi selama itu beliau tak mau menerima Honorarium yang disediakan oleh Fakultas. Kawan kawan mengajar di Fakultas Filsafat UI memanggil Rocky sebagai Profesor karena sangat menghormati kepakarannya dalam Ilmu Filsafat. Tak terbilang banyaknya  mereka dari Fakultas lain  berusaha untuk mencibir  Kepakaran Rocky, tetapi umumnya mereka justeru mendapatkan ejekan dari masyarakat umum. 

Kita di Indonesia tidak seperti masyarakat akademis di sejumlah Negara maju, sangat menghargai kelebihan orang orang yang memiliki kedalaman  pemahaman di atas rata rata. Masyarakat akademis di banyak Negara Maju tak keberatan memberikan Penghargaan sebagai Profesor. Tetapi Negeri kita  yang tercatat sebagai Negara Berkembang ini justeru sangat mengharga formalitas. Namkanya gelar gelar bernada penghargaan itu justeru sepertinya diumbar ke mereka yang memiliki Jabatan penting. Sedang enggan untuk mmemberikan pebghargaan kepada Peneliti, penulis, serta jago jago diskusi dan jago ceramah. Semisal Nasib yang dialami Rocky Gerung. 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar