Selasa, 04 Agustus 2020

KAMI TAK BUTUH PENGAKUAN MENDIKBUD SEBAGAI PENGGERAK

MEMANG SAYA TERTAWA ketika sejumlah kawan kawan menggurawi saya baru belajar telungkup, pada saat kami selepas Magrib menunggu Isya mengaji al-Quran, untuk mendekatkan mata kepada al=Quran saya memang harus tertelungkup. Tetapiu diam diam saya menangis, teringat kewpada Guru Mengaji saya, saya menjadi santri kalong, saya teringat saya bagaimana Ustadz saya berusaha untuk mengik'rob sepenggal kalimat yang dikutip dari Kitab Jurumiyah, pada saat itu kami menjadi santri kalong, sebuah kitab di tangan ustadz, sebuah papan tulis yang kondisinya sudah meminta dicat ulang, setumpuk kapur ukuran kecil kecil karena memang potongan  potongan kapur tulis itu tak dibuang, untuk digunakan kembali pada saat stok kapur mulai menipis. aketika hendak menulis kami terpaksa bertiarap dilantai bambu itu karena kami tak punya meja dan kursi.  Saya menangis mengingatnya, seberapapun susah payahnya ustadz kami melawan penyakit bengeknya di ujung usia yang tak muda lagi itu. Tak bakalan diakui sebagai  tokoh penggerak pendidikan. Setidaknya sebelum menamatkan SD saya terpaksa tiga kali berpindah pindah mengaji itu semua dikarenakan karena guru kami mundur dari kegiatan belajar mengajar karena usia sang uistadz.

Jelas dan tegas guru guru semacam itu tak bakalan dicatat sebagai tokoh penggerak. NU, Muhammadiyah dan PGRI karena merasa tak sejalan dengan Kemendikbud mereka keluar dari  barisan Program Organisasi Penggerak yang dikelola Departemen yang mengelola Pendidikan ini. Kabarnya NU dan Muhammadiyah terseok seok untuk bergabung kepada Program Penerimaan Bantuan ini, karena pihak Pemerintajh lebih cenderung kepada Lembaga Pendidikan baru, yang memiliki surat menyurat yang lengkap serta mendap[at dampingan dari ahli hukum. Sementara NU dan Muhammadiyah yang berdiri jauh sebelum masa Kemerdekaan ini mendapatkan kesulitan untuk menunjukkan Akten pendirian, semantara surat surat yang mereka kantongi sejak zaman Pemerintahan Kolonial itu dinyatakan tidak syah. Sementara bila membuat surat surat tertanggal masa kini maka NU dan Muhammadiyah itu akan dianggap sebagai Organisasi kemaren sore.


PGRI menyusul NU dan Muhammadiyah mundur dari POP karena dan yang akan dibagi bagikan terasa tidak sesuai dengan kondisi pendiudikan yang kini sedang dikelola oleh PGRI, Muhammadiyah, NU. Programnya memang disusun bersama sejumlah  lembaga Pengelola Pendidikan dan selain memiliki modan yang lebih dari cukup, sehingga mereka memiliki kemampuan dan kemandirian, sehingga peruntukan dana bantuan yang demikian banyakm itu memang lebih cocok diserahkan kepada mereka.

Nampak Menteri Kemendikbud ini orientasinya adalah Perkotaan, atau Mungkin lebih Luar Negeri, dia tak terlalu memikirkan para siswa yang sekarang mengalami kesulitan mengikuti proses pendidikan jarak jauh, selain mereka tak siap dengan HP android, dan di Jakarta saja masih banyak wilayah yang sulit mengakses sinyal, belum lagi prihal pulsa. Banyak pihak yang benar benar patah orang terhadap sikap kemendikbud, apalagi Lembaga yang mati matian sejak jaman penjajahan bergerak dalam bidang Pendidikan hanya mendapatkan klasifikasi 1 gajah, sementara lembaga yang baru saja berdiri tetapi memiliki kemampuan finansial yang lebiuh dari cukup, mendapat kwalifikasi 2 gajah, dan dipastikan akan menggunakan dana bantuan ini sesuai dengan peruntukannya, yang memang disusun bersama pengelola pendidikan yang berduit itu.



Puja puji Kemendikbud kepada lembaga pendidikan yang terkenal banyak uang, dan sinisme kepada lembaga lembaga sehingga keluarnya NU, Muhammadiyah dan PGRI dari program ini membuat mata Kemendikbud mulai terbuka. Dia baru sadar bahwa uang bukanlah segala galanya. Tetapi nasi telah menjadi bubur, Kemendikbud memang tak cocok dikelola oleh menteri yang mata duitan. . 

Program ini memang bukan untuk menolong orang miskin, kali. 

Senin, 03 Agustus 2020

SALTO POLITIK PDIP

PARPOL  VERSUS  PENGUAS                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         

SALALU DITEGASKAN oleh Megawati Sukarnoputri selaku Ketua Partai Besar sebagai Pemenang Pemilu. Beliau katakan bahwa Presiden Jokowi itu adalah seorang petugas partai, dan harus berkhidmat kepada Partai yang menugaskannya sebagai Presiden. Walaupun di kritisi oleh banyak pengamat dan pakar, tetapi apa yang dikatakan oleh Megawati sebagai Pemimpin yang Charismatik itu tetap saja diaminkan oleh para kader PDIP. Tetapi belakangan kita dikejutkan oleh ketunduk patuhan Megawati Sokernoputri kepada keinginan Jokowi ketika putra dan menantu Presiden Jokowi bersikeras ingin mencalonkan diri sebagai Walikota Siolo dan satunya sebagai Walikota Medan,

Kader PDIP Solo yang selama ini digadang gadang sebagai Calon Walikota Solo di panggil langsung oleh Presiden, diminta mundur secara sukarela dari pencalonan dan konon yang bersangkutan walaupun diiming imingi jabatan lain. Tetapi yang bersangkutan menolak. Lain cerita dengan dengan prihal Boby Nasution yang menantu Presiden Jokowi itu, kader PDIP ini  tiba tiba melirik Partai lain, karena kedudukannya sebagai calon Walikota Medan bakal terancam, karena merasa mulai diemohi Megawati.

Megawati sebagai pejuang paham Sokarnoisme yang masih bersemangat untuk merubah Pancasila menjadi Trisila, dan selanjutnya diperbaiki sebagai Ekasila, yang isinya gotongropyong, dalam bergotongroyong itu akan menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa itu menjadi Ketuhanan yang berkebudayaan. Artinya bertuhan yang dihimpun dari berbagainilai budaya luhur bangsa. Jangankan akan memperjuangkan tegaknya Soekarnoisme itu, kini Megawati nampaknya bertekuklutut tak berdaya dihadapan Jokowi, yang gemar bersandiwara demi pencitraan itu. Apakah ini semua sebagai bagian sandiwara Sandiwara antara Jokowi dan Megawati, untuk jawabannya,  kita harus menunggu babak babak panjang yang akan mereka tayangkan.


Ini politik Tingkat Tinggi, sehuingga tak mungkin bisa dipahami oleh rakyat kecil yang biasa disebut Wong Cilik Itu.  PDIP dan Megawati   serta Jokowi yang telah belajar banyak kepada kelompok oligarki yang banyak uang itu, kini perannya mengingatkan kita dengan kata kata bijak, ada gula ada semut. bahwa pemilik modal, pemilik uang itu akan mudah menguasai pihak/ orang lain dengan uangnya. bahwa dengan uang mereka bisa memutarbalikkan Partai sebesar apapun.

PDIP sebagai pemilik suara terbanyak, maka akan banyak semun semut non kader merapat, dengan uang dan kekuasaan yang mereka miliki. Mereka akan merusak perjungan Megawaty Soekarnoiputri, bisa saja mereka adalah Kader PKI uang menytsup, tetapi juga kelompok fragmatis lainnya yang memiliki kemampuan merubah arah perjuangan, karena para penyelundup itu sejatinya tidak pro kepada Wong Cilik, karena sesungguhnya mereka tak lebih hanya sebagai Woing Licik.

Hati hati Mbah Mega.

Minggu, 02 Agustus 2020

PENGARUSUTAMAAAN FALAFAH PIIL PESENGGIRI DALAM KARYASASTRA.

FALSAFAH PIIL PESENGGIRI  yang kini resmi tercatat sebagai budayatakbenda yang ada di wilayah Provinsi Lampung adalah sesuatu yang harus diterimakan kepada masyarakat, mulai dari masyarakat awam, masyarakat poendukung adat dan Budaya Lampung, masyarakat pendatang, para ilmuan, siswa siswi, mahasiswa serta para akademisi lainnya. Danb teristimewa para seniman sastrawan Lampung, yang memiliki kemampuan spesial untuk mengunjungi audien masing masing di manapun berada. Artinya untuk memelihara dan merawat Falsafah Piil Pesenggiri tidak tergantung hanya sekelompok orang, apatah lagi hanya seseorang. Danb diantara mereka yang memiliki potensi menerima, memelihara dan mengembangkan atau mempublikasikan Piil Pesenggiri adalah seniman dan sastrawan  Daerah Lampung. 

Salah satu yang harus menjadi fokus untuk diajak membantu mempublikasikan Falsafah Piil Pesenggiri adalah Seniman sastrawan daerah Lampung, mereka memiliki alat, kata kata/ ucapan, tulisan, yang memenuhi kaidah kaidah keindahan, dan sejatinya akan lebih mudah diterima oleh masyarakat  dari segala lapisan dan status dan bukan hanya penduduk setempay tetapi juga pendatang. Bahkan orang asing sekalipun.


Sungguh bahasa seni itu adalah bahasa yang universal, yang memiliki kemampuan menembus batas dan segala pagar halang rintangan dalam bentuk perbedaan,.dan apapun namanya. Dan bahasa seni merupakan bahasa yang paling gampang dianggap layak digunakan dalam terlalu banyak situasi yang tidak direpotkan oleh berbagai persaratan.

Sebagaimana dialami sebuah upaya penulisan konsep Buku Kamus Bahasa Lampung Belanda, segala konsepnya telah tertulis  dan dinyatakan siap cetak tetapi terpaksa tertunda karena tium belum mampu menangkap garis merah falsafah yang dianut masyarakat setempat, ada sesuatu yang masih kontroiversi antara yang satu dengan yang lain, dan dalam waktu bersamaan karya sastrapun menjadi seolah hilang ditelan bumi. Andaikan saja karya sastra itu bisa ditemukan, maka para pakar  bahasa itu akan dengan mudah menelusuri benabf nerah falsafah yang sangat samar itu.


Nampaknya ditinaju dari sisi tertentu sesungguhnya seni sastra itu "Bersauadara Kembar"  (dalam tanda kutip) apalagi kesenian dalam dunia filsafat adalah cabang Filsafat yang terlalu banyak peminatnya, yaitu  Filsafat seni.  Itulah sebabbnya Pwemerintah seyogyanya berkenan menyiapkan dana untuk membiayai Pelatiuhan bagi para seniman/ sastrawan dalam upaya menjadikan Piil Pesenggiri sebagai Arusutama Pencipataan Karyaseninya. Falsafah Piil Pesenggiri adalah salah satu peninggalanbuadayatakbenda yang diakui oleh WHO, dari yang masih sedikit itu.

Bagaimana pendapat anda .... ?