Rabu, 28 April 2021

KITA PERTAHANKAN PENGAKUAN BUDAYA LAMPUNG OLEH UNESCO


WARISAN KEBUDAYAAN ADALAH TAK TERNILAI HARGANYA, 
WAJIB KITA RAWAT BERSAMA

Sejatinya harus bersyukur Unesco teleh memutuskan sejumlah warisan "Buiadayatakbenda", jika tak salah simak sudah ada sekitar hampir empat puluhan macam budaya tak benda  dari Lampung yang telah diputuskan oelh Unesco dari sejumlah itu maka salah satunya sepengetahuan saya Falsafah Piil Pesenggiri tercatat sebagai peninggalan Budayatakbenda telah diakui oleh Unesco, tentu saja atas usulan  Pemda melalui Dinas yang membidang Pembinaan Budaya setempat. Saya pernah dikejutkan oleh kedatangan sejumlah mahasiswa peserta Kemah Budaya utusan Provinsi Lampung, mereka pada saat itu  adalah  tercatat sebagai mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi antara lain dari Jawa Timur, Yogyakarta dan juga Dari Mahasiswa Lampung. Mereka datang ke rumah atas petunjuk sebuah buku pegangan  untuk mengikuti Kemah Budaya yang disrlrnggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaam, dan pada saat mereka kendatangi saya ke rumah  mereka sedang mempersiapkan segala sesuatunya  sebagai prasarat peserta kemah buadaya dari Lampung. 

Arahan untuk menemui saya terkait dengan masalah ini cukup mengejutkan saya, karena saya merasa selama ini saya tak betnah dibubungi terkait masalah ini. Keputruisan Unesco sensiri    Menerima Piil Pesenggiri sebagai Warisan Budayatakbenda Provinsi Lampung, jika tak salah simah  ditetapkan sejak tahun 2017 yang lalu. Jika tidak salah simak telah diputuskan manakala terhitung sejak ditetapkan hingga empat tahu kedepan tak direspon oleh Pemda setempat  dengan berbagai usha bermanfaat untuk pembangunan kualitas manusia dan syukur syukur jika selain membangun kualitas manusia juga menghasilkan produkl produk yang mendatangkan keuntungan finansial. 

Diantara peninggalan buadayatakbenda antara lain tapis, gulai tabo, dan ada juga yang berbentuk seni tari dan seni sastra. Saya tidak yakin bahwa peninggalan ini hanya dimaksudkan sebagai  kemanfatan finansial semata. Peninggalan jenis Tapis adalah sangat mungkin. tetapi peninggalan semisal Falsafah Piil Pesenggiri tentu saja akan mengalami sedikit kesulitan. Tetapi bila kita harapkan akan membangun kualitas kemanusiaan melalui Falsafah Piil Pesenggiri itu nampaknya akan lebih siginifikan. walaupun kita juaga tidak tahu apakah Pamereintah Daerah sudah memberikan respon yang cukup terkait hal ini. 

Memang kita harus lebih banyak menulis temtyang Piil Pesenggiri agar penerus kita sebagai pendukung budaya Lampung memiliki sumber literatur yang memadai. Dan tentu saja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Instansi pembina harus memprogramkan dan memfasilitasi akan kemunculan buku bacaan terkait Piil Pesenggiri. Sesungguhnya Sudah berbilang jumlahnya mahasiswa Si, s2 dan S3 yang memilih Falsafah Piil Pesenggiri sebagai konten  Skripsi, Thesis dan Diskripsi yang akan mereka susun , mereka sudah banyak yang menyelesaikan dan bahkan telah dinyataan lulus dalam ujian.  Tentu saja berbagai jenis lomba bisa dilakukan apakah dalam bentuk seni lagu, ataupun puisi bisa meramaikan lomba  lomba itu semua, tetapi tentu saja uluran tangan dan pembiayaan dari pihak pemerintah sangat dibutuhkan. tentu sesuai dengan aturan keuangan yang berlaku. 

Disamping itu juga para pihak yang memiliki potensi membantu terselenggaranya  upaya untuk mengenali peninggalan kekayaan budaya ini bahkan untuk mengembangkannya. Kekayaan peninggalam kebudayaan tak benda Privinsi Lampung Piil Pesenggiri adalah sebuah pendidikan  bagaimana agar setiap seseorang itu memiliki sikap dan karakter memiliki konsistensi, bila masyarakat umum memiliki sikap yang konsisten, maka kemajian bagi masyarakat itu akan terselenggara. 

Jika ada seorang pemimpin saja yang memiliki sikap yang tidak konsisten, maka setiap saat masyarakat akan diancam suatu kerusakan, dimana kerusakan itu akan membesar dan semakin membahayakan. Melalui Falsafah Piil Pesenggiri ini  sikap konsisten itu ditanamkan. Pada saat ini Kemerdekaan Indonesia telah berlangsung selama 75 tahun, tetapi capaian kesejahteraan kita jauh di bawah beberapa Negara yang lebih kemudian dalam mencapai kemerdekaan. Mengapa kita terlambat, itu tak lain adalah karena kita banyak dipimpin oleh pihak pihak yang memiliki konsistensi buruk atau setidaknya kurang baik, Seseorang yang memiliki konsistensi yang baik, akan memiliki kemampuan untuk menuliskan dan mengucapkan apa yang mereka katakan, atau mereka hanya menuliskan dan mengucapokan apa yang mereka katakan. Kita sudah mengeluarkan uang banyak  untuk melatih para aparat bisa melakukan itu tetapi belum menunjukkan hasil yang menjanjikan. 

Padahal kita memiliki kekayaan yaitu sebuah filsafat, Falsafah Piil Pesenggiri adalah merupakan sesuatu yang akan menjadi kerugian besar manakala tidak kita manfaatkan Falsafah yang luar biasa ini, karewna falsafah Piil Pesenggiri adalah sekaligus meruapakan kekayaan kita.  Tentu kita akan lebih mudah memanfaatkan kekayaan milik kita, dibanding hanya memanfaatkan falsafah milik orang atau pihak asing. Mari kita upayakan agar masyarakat memiliki sikap konsistensi yang tinggi. Falsafah Piil Pesenggiri yang terdiri dari : Nemui Nyimah (produktiup), Nengah Nyappur (Kompetitip) Sakai Sambaia Sambaian (Kooperatip)  dan  dan Juluk  (inopatip). Sebuah Falsafah  yang menggambarkan  nilai nilai konsistensi yang luar biasa, seorang bercerita ketika falsafah ini disajikannya dalam diskusi mahasiswa S3 Fakultas Filsafat UGM mengundang decak kagum peserta diskusi. 

Memang memlalui falsafah ini jelas tidak semudah itu bisa mendatang hasil secara finansiasl. sehingga manakala Unesco tertapkasa harus mencabutnya karena tidak secara cepat kita tindaklanjuti  dan menghasilkan  grafik naik secara statistik apatah lagi finansial. Tetapi mengingat bahwa Falsafah Piil Pesenggiri ini harus kita kembangkan  baik diakui atau tidak diakui sebagai kekayaan peninggalan budayatakbenda oleh Unesco, dan terpaksa dicabut,  tetapi kita sebagai pendukung dan pelaku budaya Lampung hingga saat ini masih merasakan ini sebagai salah satu kekayaan kita  dalam menjaga keutuhan dalam bermasyarakat, walaupun keuntungan secara ekonomis masih jauh panggang dari api.         

Senin, 26 April 2021

SUMBANGAN M HIMYSRI YUSUF TENTANG FALSAFAH PIIL PESENGGIRI

SAYANG BELIAU TAK PANJANG UMUR  almarhum M Himyari Yusufa yang dengan penuh keyakinan menghabarkan bahwa Kata Pesenggiri itu berasal dari kata Pesenggekh ata Pesengger  di hadapan sejumlap Profesor beliau kelahiran dari Keluarga Anggota dan Warga pendukung dan pelaku Budaya Pepadun Tulang bawang beliau di Kampus UIN Raden Intan Bzndzr Lampung, terkenal segai tokoh yang memiliki perhatian yang serius kepada Kebudayaan Lampung dimana Iya dilahirkan. Apa yang ditulisnya dan yang diucapkannya serta apa yang dipikirkannya dihadapan Tim Pengji dengan dampingan para Akademisi terpilih. Beliau mengatakan bahwa Falsafah Piil Pesenggiri itu berasal dari kata kata dan Bahasa serta Pemikiran Pemikiran yang berkembang di Lampung. 

Pesenggekh atau Pesengger yang kelak menjadi Pesenggiri atau lengkapnya sebagai Falsafah Piil Pesenggiri itu berasal dari mekanisme desa tetapi bernuansa kekotaan  dan dari pilihan bahasa yang digunakan ternyata tidak terlalu terikat dengan suasa dan mental perkampunga atau pedesaau yang agraris, juga bermental kekotaan dan industrialis. Tetapi uraian berikut ini kita akan meneropong suasana dan situasi yang dihadapi oleh masyarakt yang memanfaatkan fasilitas jalan pada beberapa abad sebelum mencapai Kemerdekaan Republik Indonesia atau pada saat Falsafah Piil Pesenggiri tersusun.  Dalam hal ini maka keberadaan Kiyai atu Ustad tentu saja harus kita eksploitir karena pada saat itu sedang terjadi aktivitas dakwah yang gencar sehingga  kelak setelah Kemerdekaan jumlah penganut agama Islam emcapai 90%, akan kita bandingkan dengan hasil penelitian ditemukan bahwa 90% masyarakat pada saat itu mengalami buta huru, sedangkan dalam waktu yang bersamaan ternyata 80% dari ummat Islam sudah mahir membaca Al-Quran. 

Kita bisa bayangkan betapa panjangnya sebuah perianan dakwah pada saat untuk membuat ummat melek huruf al-Quran, demikian panjang dan seringnya perjalanan dakwah itu dilaksanakan, tetapi sejak dahulu  sudah menjadi rahasia umum bahwa dakwah itu diselenggarakan  justeru oleh para pedagang. Kemampuan masyarakat kota hingga jauh di desa desa di balik balik pegunungan atau dilembah lembah hingga garius pantai memiliki kemampuan membaca Quran dengan lancar, dan buta huruf Latin tidak menjadi masalah bagi ujmmat untuk merasa akrab dengan hurup alquran, apalagi pembelajaran membaca al Qyran itu  sejatinya diselenggarakan oleh para saudagar yang memimpin semua perjalanan perbiagaan, siang mereka berdagang dan malam mereka melaksanakan pengajian, baik belajar mengaji Quran maupun  terjemahan, fikih, tauhid, hadits serta tarikh Islam dan lain lain.  

MINTA MAAF ITU SEJATINYA MULIA

 
TETAPI MINTA MAAFNYA NADIM MAKARIM KENGECEWAKAN. 

KEMENTERIAN Pendidikan Dan Kebudayaan  termasuk lembaga yang rajin minta maaf kerpada rakyat dengan mengakui segala keslahan dan kalimat sedikit membela diri dengan kata kata kami tak memiliki maksud seperti apa yang dihebohkan oleh masyarakat, Seperti kita ketahui Produk terbaru Kemendikbud Kamus Sejarah Indonesia semula di awal dalam buku itu akan ada konten tentang sepak terjang NU dan Pendirinya dalam sejarah penting itu, tetapi belkakangan nama Pendiri NU Hasyim Asy'ari itu talk lagi ada tercantum sedikitpun, sebaliknya munculnya beberapa tokoh Partai Komunis Indonesia. Tentu saja warga NU kecewa dan netizen menyatakan geram. Ini sudah untuk kesekian kalinya Kementerian Pendidikan menyatakan minta maaf  atas sejumlah naskah yang sudah beredar itu, dan kemendikbud menyatakan akan menarik, tetapi apakah  pernyataan itu berarti selesai. Tentu kita telah hilang keperbayaan 

Dalam suatu tayangan di Medsos seorang Pengamat bernama Roky Gerung mengatakan itu kurang baik, jika langsung meminta maaf, seharusnya dipertahankan dulu dengan cara menyelenggarakan diskusi dengan mengumpulkan para pakar, nanti setelah dibabakbelurkan dalam diskusi baruy puituskan untuk merubah serta menarik kembali semua naskah yang terlanjur tersbar dengan menunjukkan mekanisme cara menariknya. Cara seperti itu tentu akan lebih baik, walaupun memang para pejabat dan tim akan kehilangan muka dan kemungkiunan tak lagi akan ditunjuk sebagai Tim, atau Tim harus berterus terang mereka melakukan itu atas arahan siapa, dan atas pertimbangan apa Tim melaksanaka saran atau arahan itu. 

Tetap[i itu akan jauh terasa lebih m,endidik ketimbang langsung janji berubah, lalu besok diulang lagi dan diulang lagi serta diulang lagi, karena gaya serti itu sudah terlampau seting dilakukan oleh seorang Menteri kelompok millenial yang dibangga banggakan itu. Jangan sampai masyarakat menganggap ini hanya akal bulus belaka, dengan harapan kecurangan tidak ketahuan, tetapi bila terlanjur ketahuan. gampang saja minta maaf selesai urusannya, dan besok akan dulang lagi. Ibarat jatuh di lubang dengan cara yang satu terus terus menerus, dipastikan ada apa apanya. Seperti aga sesuatu yang cukup terencana.  Nadimk makarim mohon tunjukkanlah kualitas anda yang sebenarnya,  anda adalah millenial yang cerdas. 
Wallohu a'lam bisho0wab.

FALSAFAH PIIL PESENGGIRI TERLAHIR DARI SEBUAH PERGUMULAN

PIIL PESENGGIRI terlahir bukan dalam proses sederhana, tetapi dari sebuah pergumulan maha berat setidaknya melibatkan masyarakat petani, kelompok pedagang, para alim ulama dan sejumlah kelompok yang hanya mengutamakan keuntungan dari yang usaha secara wajar sampai dengan mencari jalan termudah. Semula dibuka diskusi bahwa Piil Pesenggiri itu dari Kata Pasunggiri Kerjaan Udayana, lalu saya menawarkan kemungkinan pengaruh Kata Pasunggiri dari Kata Bahasa Sunda. Tetapi seorang peneliti kebudayaan yang sangat produktif menolaknya, "Teliti saja terus kata beliau Nanti akan kita Temukan Bahasa dan Istilah Pesenggiri itu sebagai Kekayaan Bahasa Lampung. 

Sampai pada suatu saat tampil seorang Himyari Yusuf Dosen Fakultas Ushuluddin yanng sedang menyusun Disertasi S3 nya di Fakultas Filsafat Universitas Gajahmada (UGM) Yogyakarta dalam disertasinya itu beliau mengatakan bagwa Lata Pesenggiri berasal dari Kata Pesenggekh atau Pesengger yang artrinya Perswis. Ternyata kata itu Bukan sembarangan, karena terjadi pergumulan Panjang yang tentu tak akan berlangsung sederhana, ternyata Udo Karzi benar. 

Akhirnya ketika Himyari Yusuf akan menyusun Disertasi S3 di  Fagultas Filsafat Universitas Gajahmada (UGM) beliau menemukan  ada kata yang paling dekat dengan kata Pesenggiri. Beliau meyakini kata Pesenggiri  berasal dari kata Pesenggekh (pesengger), dan kata kata itu memang masih terpakai  huingga saat sekarang.  Kata Pesenggekh (pesengger)  adalah untuk menggambarkan situasi bertemunya kendaraan dalam posisi berlawanan arah, jika yang satu dari Barat ke arah Timur dan yang lain lagi dari Timur ke arah Barat, maka titik pertemuan kendaraan itu lazim dizebut pesenggekh (pesengger).

Dalam situasi seperti itu maka manakala jalam dalam keadaan sempit maka keduanya harus mengurangi kecepatan agar masing masing bisa mengendalikan diri dan keberadaannya tidak menjadikan halangan bagi kendaraan lain untuk melaju. Sedang bila menemukan jalam dalam keadaan tak memungkinkan bersama sama melaju hatta berhati hati sekalipun, maka disepaklati salah satunya harus menghentikan perjalanan bagi siapa yang menemukan posisi agar bisa berhenti lebih menepi. Adanya kesepahaman antara satu dengan yangh lain  dalam berlalu lalang dijalan milik umum ternyata dijadikan gagasan menentukan  nama sebuah falsafah yang seyogyanya dianut secara bersama yaitu Falsafah Piil Pesenggiri yang berasal dari kata Pesenggekh atau (Pesengger) lalu dalam perkembangan sedemikian rupa menjadi Pesenggiri. Seyogyanya pandangan falsafah seperti itulah yang melahirkan atuan aturan baku dalam menggunakan fasilitas umum, lalu diterjemahkan dalam bentuk rambu rambu lalu lintas.

 

Tetapi situasi yang dihadapi  ketika Falsafah Piil Pesenggiri ini tersusun adalah dalam situasi ketidakpastian, bisa ketidak pastian hukum, ketidak pastian keamanan dan banyk hal lagi ketidakpastian  lainnya, seperti ketidak pastian keadaan alam, bahkan binatang dan lain sebagainya., belum lagi masalah  internal dan eksternal, serta sarana dan prasarana  dalam bertransportasi. Dalam situasi yang demikian itu    

Itulah sebabnya sejak awal  sayapun ikut meyakini bahwa  sejatinya Falsafah Piil Pesenggiri ini diciptakan oleh kelompok diluar kekuasaan, artinya dalam menyusun falsafah ini juga sangat melibatkan tokoh masarakat umum, hampir dapat dipastikan manakala  penguasa yang yang ikut menyusun sebuah falsafah  dan peraturan lainnya maka akan didominasi  oleh upaya upaya untuk memperkuat kelompok pemimpin atau penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya, atau nsetidak tidaknya  adalah untuk memaksakan pihak yang dipimpin  mengeluarkan sebagian dari kekayaannya  untuk selain untuk kesenangan atau kegembiraan para penguasa atau  untuk memenuhi kebutuhan  kebutuhan dalam transaksi dengan kekuasaan di luar Pemerintah, semisal transaksi  antara penguasa dengan pengganggu keamanan yang juga  sebenarnya telah memperkuat diri dengan tim timnya untuk  mendapatkan keuntungan yang bisa digunakan untuk mendapatkan kebutuhan yang diperlukan juga dalam  mempertahankan kemudahan dan  dan kenyamannya. Serting sekali para Penguasa memang harus lebih mengutamakan  terselenggaranya transaksi dengan pihak yang ingin berkuasa tetapi bukan dengan dalih kekuasaan, seperti dalih perniagaan  tetapoi mereka bermain mata dengan pembuat keonaran. Karena pada saat itu belun lagi masyarakat mengenal  teori teori Trias poliutika.  Yaitu adanya pihak Ekskutip, legislatif dan  ihak Yudikatip. Pada saat itulah  Falsafah Piil Pesenggiri itu terkahirkan.

Ditilik dari Struktur Falsafah Piil Pesenggiri itu sendiri maka diyakini bahwa pada saat itu sedang dikuasai oleh Penguasa yang memiliki kekuasaan yang sangat terbatas, dan kita bisa membandingkan dengan  Falsafah yang muncul di daerah lain yang sedang dikuasai  Penguasa yang memiliki kekuasaan yang tidak terbatas, maka akan nampak sekali  bahwa ada ubsur unsur yang nantinya akan dirasakan sebagai sesuatu yang bisa menguntungkan stu pihak dan akan merugikan atau  bahkan menidakkan pihak lainnya.

Kembali ke situasi riil yang dihadapai masyarakat dimana istilah Pesenggiri dari kata Pesenggekh itu  adalah dari sebuah mekanisme tersebarnya sebuah saebuah informasi penting, sesungguhnya ini sedang terjadi upaya pembangunan sebuah gedung pusat innformasi pada saat itu, di mana informasi  informasi ini sesungguhnya bisa ditangkap oleh para pihak yang memiliki  getaran getaran yang banyak digunakan oleh para pihak, sehingga berbagai informasi yang tentu saja harus dikemas sedemikian rupa sehingga memiliki peluang untuk saling terjadi pertukaran informasi antara semua pihak. Lalu secara langsung atau tidak langsung maka terjadilah rumusan yang terangkum dalam Falsafah Piil Pesenggiri.   

 Perwis atau Pesengger pada saat itu adalah bertemunya kafilan dengan kafilah lain, bertemunya  kelompok pejalan yang singkat dekat atau dekat dengan pejalan jarak jauh atau sama sama pejalan jauh  yang pada saat itu atau di daerah  itu membutuhkan sejumlah informasu informasi penting, informasi bisa meliputi  masalah kemanan terkait dengan cuasa, manusia maupun binatang ataupun kondisi jalan yang akan ditempuh.

Pertemuan dengan penggunaan atau pemanfaatan saat pesenggekh ataupun  pesengger ternyata  diam diam sejatinya adalah  sedang terjadi sebuah tarnsaksi  transaksi dengan cara cara yang lazim pada saat itu yang adalah tentu saja dengan berbagai kepentingan, katakanlah ada pihak yang melakukan perjalanan perdagangan, ada seedar anjang sana, tetapi sesunggunya ada juga yang melakkukan perjalanan dakwah. Dan tentu saja akan menjadi lumrah  

Kamis, 22 April 2021

ILMU YANG BAIK TETAPI MINUS NASKAH TULISAN, BUTUH VOCAL POINT

BAGIAN KEDUA DARI DUA TULISA,

TANGGUNGJAWAB MENYELAMATKAN BANGSA


SAYA MERASA PERLU untuk klarifikasi bahwa saya bukanlah vocal point dari Prana Sakti dan juga Piil Pesenggiri, walaupun keduanya terbilang sedikit sekali naskah tulisnya, bisa jadi karena sudah musnah atau memang tersembunyikarena semula dirahasiakan atas berbagai perimbangan.  Sehingga banyak pesan yang tak kunjung tiba kesasaran  Saya tidak mengeksploitasi diri untuk jadi vocal point, karena saya harus tahu diri tetapi saya sangat sependapat bahwa keduanya butuh vocal point, dan tentu saja saya harus jelaskan bahwa saya tidak trerbilang banyak tahu tentang keduanya, walaupun saya sudah belasan tahun merasa tertarik, Saya hanya berusaha  mengisi kekosongan dengan harapan  nanti suatu saat akan ada pihak yang benar bnar pantas  dan berkenan berindak sebagai vocal pointnya. PS ada vocal pointnya, dan Piil Pesenngiri  ada vocal poinnya sendiri. 

Dan saya sangat menyenanginya karena keduanya bila ditelusuri akan memili hubungan yang sangat kental dngan keislaman. Dan saya pikir akan lebih menarik lagi manakala dikaitkan dengan Tibbul Qulub, keshatan jiwa dan pikiran dan kebetulan itu semakin dibutuhkan oleh Bangsa Indonesia agar lebih cerdas memelmelihara keanekaragaman, dalam memelihara keanekaragaman itu baik Prana Sakti maupun Piil Pesenggiri masing masing memiliki peran dalam perjuangan walaupun dalam situasi yang berbeda. Dalam kitab Tibbul Kulub itu bahasannya meliputi Ada hati yang sudah mati, Ada hati yang masih hidup, Ada hati  sedang tidur, ada hati yang sudah bangun, ada hati yang sakit dan ada hati yang sehat.

Tibbul Qulub dibutuhkan oleh Piil Pesenggiri maupun Prana Sakti, kaena Tibbul Qulub menjelaskan tentang hati yang mati, hati yang hidup, hati yang sakit, dan hati yang sehat. Kreteria hati itu sangat penting dipahami untuyk mencapai tujuan baik dari Prana Saktiu maupun Piil Pesenggiri, karena keuanya manakala kita runut hingga menndasar sangat kental kaitannya Agama Islam.

Diceriterakan oleh Bang Aspan sebagai Pendiri Prana Sakti dan sekaligus sebagai Guru Besar berujar bahwa ada suatu daerah di sekitar Yogyakarta yang dahulu merupakan basis Partai Komunis, maka sebagai penganut Islam pada saat mereka merasa tertekan dan kehilangan kebebasan baik dalam berfikir , berperasaan apatah lahi untuk berpendapat. Celakanya lagi, setelah Pemberotak PKI itu ditumpas, mereka masih terkena imbas, karena sering juga dianggap sebagai orang yang kurang bersih diri, justeru mereka merasakan  beban yang sangat, mereka sering merasakan kehilangan hak hak civisnya. Dan Prana Sakti berhasil menetralisir mereka dari cara berfir yang tak menguntungkan itu. Bang Asfan pendiri Prana Sakti, dan Mantan Ketua Lassykar Ariss Margono itu berhasil membantu mereka dengan jurus jurus Prana Sakti, Di desa kecil itu Prana Sakti bermula mengayun langkah dan selanjutnya ingin melakukan sesuatu yang lebih besar lagi.  

Jurus Prana Sakti yang terdiri dari gerak kaki dan tangan, nafas dsan ikrar, dalam rangkaian tulisan ini biasa saya sebut dengan istilah fariabel, ada fariabel gerak, sistem pernabasan dan fariabel ikrar yang berintikan ikrar yang bersndar pada akidah Islamiah. Itu merupakan satu kesatuan. Untuk mencapai kemampuan mensingkronkan diri dengan lingkungan. Jurus jurus itu diajarkan mulai dari yang ringan sampai kepada yang relatif berat. Dalam penyajiannya Jurus PS ini telah mengalami setidfaknya ada empat sampai dengan lima revolusi. Pada Era Guru Besar bang Asfan setidaknya ada tiga sampai dengan empat revolusi, tetapi pada era Bang Zen ini menuruit pengamatan saya baru menampilkan satu revolusi  beliau jiga tidak menyebut dan mengkampanyekan revolusinya, seperti juga pendahulunya, tetapi revolusi di Era Ban Zen ini beliau sering menyebut nyebut.  dengan rumusan cipta  rasa dan karsa  Tentu bantak sekali anggota PS yang merasa asing dengan istilah ini, dan tak disebut sebut dalam era Bang Asfan, maka ingin saya katakan bahwa ini adalah sebuah  revolusi, yaitu revolusi yang muncul di era Bang Zen. 

Saya merasa  dipersilakan oleh Bang Zen untuk menulis tentang PS, saya ingin katakan beliau memberikan kesempatan ini di depan Bang Anto, Bang Usup dan Bang Ishak Saleh di Lampung, dan di depan  alamarhum Datuk Soda. Pernah saya istirahat menulis karena ada yang merespon tulisan saya dan saya tak ingin menyusun sebuah tulisan apada saat saya merasa perlu membela diri, karena tulisan yang membela diri adalah sesuatu yang tak layak dan tak ingin saya wariskan kepada mereka yang menerima warisan ilmu yang luar biasa ini. Karena saya merasa yakin pasti ada sisi baiknya bagi mereka yang bersifat menyerang saya. dan saya tak ingin mencegah sisi baik itu, terlepas itu dari internal PS maupun eksternalnya. Di mata saya ilmu ini haruis diwariskan utamanya untuk ummat Islam, karena di dalam perputaran sejarah peradaban manusia akan selalu terjadi perputaran yang mengulang. 

Dalam Falsafah Piil Pesenggiri saya melihat adanya ketrtarikan akademisi untuk dijadikan konten penelitian ilmiah, karana Piil Pesenggiri selain bisa di lihat dari sisi Adat Istiadat Lampung saja tetapi justeru mulai terbuka lebar untuk membahasnya dari segi Sedangkan informasi tentang PS masih terbilang relatif  minim, Padahal ilmu ini sangat dibutuhkan daam rngka mensinkronkan keberadaan diri dengan lingkungannya dan dalam waktu bersamaan juga dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk untuk memilikikekuatan dalam berinteraksi dengan alam.

Bila Falsafah Piil Pesemggiri adalah tuntunan agar setiap  seseorang bisa selalu memiliki kemampuan berfikir dan bersikap secara konsisten dengan cara menata kehidupam ini secara adil dan menghargai segala perbedaan. Dengan cara mengembangkan sikap produktuf, kompetitip, koperatif dan inovatip. Sementara dalam PS dikembangkan tiga variabel yaitu gerak tangan dan kaki, mengatur pernafasan serta memperkuat sikap atau aqidah dan kaidah  yang secara keseluruhan bersandar kepada ajaran dan aturan sesuai dengan agama Islam.

Kebetulan saya mempelajarai dua ilmu peninggalan nenek moyang ini Jika Falsafah Piil Penebggiri yang juga adalah Adat kebudayaan Lampung sebagai pendukungnya ternyata bisa masuk kedunia perguruan tinggi. Tetapi Prana Sakti masih membutuhkan perjalanan yang lebih panjang, dan harus memiliki komitmen untuk menjunjung tinggi kebiasaan selama ini di anut bahwa pengembangan  ilmu ini selama ini disampaikan sevara lisan, memang diantara keterangan hanya sedikit sekali hal yang memang tak dilazimkan disampaikan secara tertulis. Dan dengan demikian maka tak mudah pula seseorang memeliki keterampilan untuk emnulisnya, itulah pula sebabnya tak mudah kita akan mendapatkan seseorang yang dipercayai oleh orhanisasi untuk dijsdiksn sebasgai vocal point. 

 Wallohu a'lam bishowab.