Kamis, 26 November 2020

REVOLUSI BANG ZEN LEBIH BERAT ?

 
 
MENULISLAH TERUS kata Bang Zen didepan seorang senior PS Palembang Datuk Soda,  saya tau tidak banyak yang mau menulis tentang PS, bang Zen benar, di lingkungan PS ini tidak kurang kurangnya anggota yang pintar dan memiliki ilmu yang luas, tetapi mereka tak mau bicara dan menulis yang pembicaraanya dhadapkan langsung ke masyarakat luas, sehingga oertanyaan orang luarpun banyak ditanyakan langsung kepoada saya kata Bang Zen, mestinmya dari para anggota cukup untuk menjawab berbagai pertanyaan publik. Hal itu diucapkan langsung oleh Bang Zen ketika sedang berada di Lampung, dihadapan Bapak Anto, Yusuf dan Iashak Saleh.  Mendengar perkataan itu saya tak menjawab, Iya atau Tidak, bukan tak ingin menulis, bukan tak mau menulis, Tetapi saya ingin menulis tidak dalam suasana sedang diserang oleh kawan kawa, sedang dikritik atau dievaluasi.    

Jika kita menulis atau bicara ketika kita sedang diserang maka besar kemungkinannya kita kan membela diri, dan pada saat kita akan membela diri maka  sangat besar kemungkinannya akan berfikir subjektif, dan pada saat kita bersikap subjektif itu maka bisa saja kita menyembunyikan sesuatu atau justeru menonjol nonjolkan sesuatu dengan maksud yang lain, yaitu untk mngambil suatu keuntungan dari yang ditonol tonjolkan itu.  Dan pada posisi sulit maka seseorang itu banyak yang suka menampilkan ayat ayat yang mutasyabihat, interpreter, tetapoi cenderung diterjemahkan atau diartikan sesuai dengan kepentingan sesaat yang juga dianggap menguntungkan. 

Itulah sebabnya dalam hadits disebutkan larangan, atau diharamkan seorang hakim, menjatuhkan hukuman disaat Ia sedang marah. dahulu pada saat sedang terjadi peperangan, seorang sahabat berhadapan satu lawan satu, tiba tiba dalam duel itu sang musuh meludahi wajah sahabat tadi, sag musuh benar denar dalam keadaan terdesak, sehabat tadi telah menghunus pedang untuk mengakhiri duel itu, tetapi buru buru sahabat tadi menyarungkan pedangnya, setelah ludah simusuh mengenai wajahnya. Mereka yang lain bertanya mengapa Iya melakukan itu. Sahabat menjawab ... Aku berperang karena Allah,  maka kalaupun aku membunuh adalah karena Allah, tetapi  musuh meludahi wajahku dan aku marah, jika pada saat itu aku membunuh, itu bukan lagi karena Allah, tetapi aku membunuh karena marah akibat diludahi wajahku. Itulah sebabnya maka pedang disarungkannya, dan sang musuh yang tak berdaya dutinggalkannya begitu saja. 

Revolusi Bang Zen menurut pendapatku adalah sangat berat, siapapun yang akan menuliskannya, maka tulislah ketika hati kita sedang bersih. Alur pemikiran revolusi Bang Zen, di mulai dari Ikrar PS, ikrar itu harus di ucapkan dengan lisan, tetapi Ia harus mewarnai pikiran, baik akal mapun perasaan,  bahkan hati. Tetapi itu saja tentu tidak cukup, ikrar itu memang harus dilaksanakan oleh tangan, tetapi tangan bisa bekerja manakala di topang oleh kedua kaki yang kokoh, Bang zen meminjam istilah cipta, rasa dan karsa, sehingga tangan mampu mencitakan atau menterjemahkan apa yang ada dalam pikiran, perasaan dan hatinya.  Revolusi Bang Zen sungguh luar biasa. 

Wallohu a'lam bishowab.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar