APANYA yang luar biasa dari Pak Nunus sebagai mantan pejabat Pemangku Kepentingan Pembinaan Kebudayaan di Indonesia, kalau boleh saya memberikan penilaian bahwa setiap saat Pak Nunus di hari hari tuanya masih memendam kecemasan akan nasib kebudayaan di bumi pertiwi ini. Pemikiran tentang kebudayaan bukan sesuatu yang dibolehklan untuk berhenti, jangan karena merasa tak mmangku jabatan lagi, atau secara umur sudah memasuki usia pensiun lalu berhenti berfikir dan berbuat, yah ... berbuatlah untuk orang lain, akan dicatat Tuhan sebagai manusia terbaik, terakhir brbuatlah untuk diri sendiri, artinya mandiri tak memiliki rasa ketergantungan kepada orang lain hingga akhir hayat, tak mungkin, sulit, tetapi mungkin demikian yang beliau inginkan untuk ditanamkan di hati para teman temannya di Grup WA, keinginan berbuat jangan pernah padam.
Pak Nunus mnceriterakan betapa disaat saat kritis palu nyaris menyentuh meja sidang pertanda keputusan ditetapkan Hatta masih berupaya untuk menempatkan posisi pembinaan kebudayaan hendaknya menjadi faktor penentu dalam menetapkan sesuatu demi masa depan bangsa, yaitu dunia pendidikan. Ceritera yang cukup heroik ini perlu disampaikan dalam bagian dari Pengarahan beliau ketik akan menyusun dan mentapkan petisi kebudayaan, karena tidakj tertutup kemungkinan justeru pemangku jabatan tertinggi akan mengalami salah dalam membima kebudayaan.
Semangat Daoed Yoesoef untuk menjadikan Pendidikan dari Kebudayaan memang harus di acungi jempol, tetapi memang seorang Menteri saja tak akan mampu melakukan perubahan itu, karena perubahan akan terlaksana atas upaya gerakan berasama di banyak pihak. Utama sistem dan struktur pembiayaan akan sangat mempengaruhi sebuah cita cita itu akan terwujud apa tertunda, atau gagal sama sekali.
Cerita yang menyesakkan dada justeru terjadi pada era pembangunan total disegala bidang, bahkan memasuki tahap reformasi. Senbenarnya tidak salah menggabungkan Departemen Kebudayaan digabung dengan Departemen Pariwisata karena penggabungan itu menjadikan Kebudayaan sebagai Induk, beda dengan ketika digabung dengan Departemen Pendidikan. Tetapi kenyataannya justeru tetap saja bukan kebudayaan yang diutamakan. tetapi justeru Pariwisata.
Kita berterima kasih kepada Jero Wacik atas kejujurannya, setelah sepuluh tahun Kebudayaan Digabungkan Dengan Pariwisata, dan katanya belum sempat memikirkan Kbudayaan. Bisa dibayangkan sebenarnya bagaimana nasib kebudayaan pada saat itu. Kesalahan tidak sepenuhnya ada pada beliau selaku Menteri. Karena kegiatan Mnteri itu sangat tergantung kepada struktur dana yang ada.
Sebagai contoh misal disebuah Uit sekolah menyunu Viusi Misi Sekolah dengan kalimat Pokok Meningkatkan Ketakwaan Terhadap Tuhan yang maha Esa, tetapi kenyataannya biaya untuk post Peningkatan Ketakwaan justeru yang paling kecil, Pendidikan Agama dengan forsi Jam pelajaran yang sangat sedikit, Kalimat Ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Rsa di ruang kelas, termasuk kata kata yang jarang terucap. Hanya Mata pelajaran tertentu yang menyebutnya.
Selain dana pendukung terbatas, mereka yang terlibat juga terbatas, dan terbatas pula dirapatkan bersama untuk mencapai kesepakatan bersama. Memang seharusnya dalam visi misi sekolah, jika demikian dalam prakteknya semestiya visi missi menyebutkan kelengkapan gedung dan alat belajar atau lain sebagainya selain Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.Dan memang inilah akhirnya keadaan masyarakat kita, yang terancam perpecahan dahsyat. Cerita Pak Nunus itu mestinya menjadi perhatian kita bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar